
Kabupaten Tangerang,MP-POLRI – Momentum bulan suci Ramadan 1447 Hijriah menjadi wahana bagi para pelestari budaya untuk mengaktualisasikan nilai-nilai kemanusiaan. Pada Senin petang (16/03/2026), keluarga besar Padepokan Macan Putih, aliran Pencak Silat Terumbu Banten, menghelat perhelatan religius berupa pembagian santapan berbuka (takjil) serta ramah tamah buka puasa bersama. Kegiatan yang berpusat di depan Kantor Kecamatan Kemiri, Kabupaten Tangerang ini, mengusung tajuk filosofis: “Ilmu silat untuk menjaga diri, ibadah puasa untuk menyucikan hati, dan bukber untuk mempererat tali silaturahmi.”.
Ritual berbagi kedermawanan ini dimulai saat mentari mulai condong ke ufuk barat. Puluhan pesilat berpakaian khas jawara tampak antusias mendistribusikan ratusan paket kudapan kepada para pengguna jalan dan masyarakat sekitar yang melintas di jalur utama kecamatan Kemiri. Kehadiran para pendekar ini tidak hanya membawa nuansa ketangkasan fisik, namun juga memancarkan kelembutan budi pekerti melalui aksi filantropi yang menyentuh berbagai lapisan elemen warga di tengah suasana menjalankan rukun Islam yang ketiga.
Camat Kemiri Rudi HK yang hadir meninjau langsung di lokasi, memberikan apresiasi mendalam terhadap inisiasi kolektif tersebut. Beliau menyatakan bahwa sinergitas antara organisasi kemasyarakatan dengan instansi pemerintahan sangat krusial dalam memelihara kondusivitas wilayah. Menurutnya, keterlibatan aktif kelompok seni bela diri dalam agenda sosial membuktikan bahwa eksistensi mereka membawa dampak maslahat yang nyata bagi lingkungan sekitar, melampaui sekadar latihan fisik di gelanggang.
”Kami sangat bangga melihat semangat gotong royong yang diinisiasi oleh Padepokan Macan Putih. Ini adalah manifestasi nyata dari nilai-nilai luhur Pencak Silat yang bertransformasi menjadi aksi kepedulian sosial. Semoga kegiatan ini menjadi katalisator bagi organisasi lain untuk terus menebar kebajikan, terutama di bulan yang penuh kemuliaan ini,” ujar Camat Kemiri dalam sambutannya di sela-sela keriuhan acara.
Di sisi lain, Ketua Padepokan Macan Putih sekaligus Ketua Ormas Pendekar Banten Kecamatan Kemiri, Kusnadi—yang akrab disapa sapaan karibnya, Bokir—menjelaskan bahwa agenda ini merupakan ikhtiar untuk mendefinisikan ulang jati diri seorang pendekar. Baginya, kepiawaian dalam olah gerak silat haruslah berjalan beriringan dengan kepekaan batin terhadap kondisi sosial masyarakat. Ia menegaskan bahwa kekuatan fisik tanpa landasan spiritualitas yang kokoh hanyalah sebuah kehampaan.
”Kegiatan sore ini adalah bentuk implementasi dari filosofi yang kami usung. Jika silat adalah perisai raga, maka puasa adalah pembersih jiwa. Melalui pembagian takjil dan buka bersama ini, kami berupaya mengukuhkan ikatan persaudaraan (silaturahmi) agar tidak ada jarak antara para pendekar dengan rakyat. Kami ingin menunjukkan bahwa keberadaan kami adalah untuk mengayomi, bukan untuk memicu friksi,” tutur Kusnadi alias Bokir dengan penuh wibawa.
Kekhidmatan acara memuncak saat azan magrib berkumandang, di mana para anggota padepokan berkumpul dalam satu lingkaran persaudaraan untuk menikmati hidangan berbuka secara sederhana namun penuh kehangatan. Dialog antaranggota mengalir secara organik, memperbincangkan strategi pelestarian warisan budaya Terumbu Banten sekaligus merumuskan langkah-langkah kontributif bagi kemajuan daerah Kemiri di masa depan. Retasnya sekat-sekat formalitas membuat suasana sore itu terasa begitu kekeluargaan.
Perhelatan ini diakhiri dengan doa bersama untuk keselamatan bangsa dan keberlangsungan tradisi lokal agar tetap ajek di tengah arus modernisasi. Dengan tuntasnya giat sosial ini, Padepokan Macan Putih sukses menyatukan aspek ketangkasan, religiositas, dan solidaritas dalam satu bingkai kegiatan yang inspiratif. Aksi nyata ini diharapkan dapat menjadi tradisi tahunan yang terus memperkuat struktur sosial dan spiritualitas masyarakat di wilayah Kabupaten Tangerang.
Ag94



