Media Purna Polri, Kepsul – Kebijakan pemerintah untuk menutup semua usaha sebagai langkah antisipasi merebaknya covid 19 membuat sejumlah pemilik usaha warkop menjerit.

Pasalnya sebagaian besar usaha di Sanana Kabupaten Kepulauan Sula (Kepsul) ini dirintis menggunakan dana pinjaman dari bank, ungkap Najamudin Umasugi, Sabtu (11/4/2020)

Menurutnya pemerintah Kepulauan Sula harus memberikan bantuan kepada pelaku usaha agar meringankan beban setoran mereka kepada pihak bank, mengingat aktifas penjualan ditiadakan.

“Pemerintah melarang kita untuk buka cafe, tapi pemerintah tidak memberikan kompensasi. Sementara kita harus bayar ke bank dan menafkahi keluarga”, ujar pemilik cafe Waimua yang akrab disapa Boiz ini.

Tak hanya Boiz, hal serupa juga dikeluhkan oleh pemilik Joung Sula Caffe (JS – Caffe), Sabirin Sangadji.

Melalui akun facebooknya, mantan wartawan ini mengeluhkan pendapatan warkopnya pasca ditutup akibat corona

JS Caffe tak lagi dibuka sehingga berpengaruh pada pendapatan, namun abang Ari sapaannya mendukung langkah pemerintah menutup cafe sebagai langkah yang menurutnya sangat strategis untuk meminimalisir penyebaran virus corona.

Menurunnya pendapatan tak hanya di rasakan oleh pengusaha Caffe dan warkop.

Hal yang sama ternyata juga dirasakan oleh tukang ojek yang mengalami penurunan pendapatan akibat kebijaka lockdown dan pemberlakuan karantina bagi masyarakat.

Ismun Leko salah satu tukang ojek di pasar Basanohi sanana bilang pendapatannya sebagai tukang ojek menurun drastis karena tidak ada penumpang.(Isto)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan tulis komen anda!
Masukkan nama anda disini