
Jakarta, MP-POLRI — Upaya mempersempit kesenjangan antara kompetensi lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan kebutuhan dunia industri kembali digulirkan Proteknas melalui PROTEKNAS FESTIVAL 2026.
Ketua Umum PROTEKNAS, Taufik Hidayat, mengatakan festival tersebut bukan sekadar ajang perlombaan teknologi. Kegiatan itu dirancang sebagai ruang pertemuan antara sekolah, tenaga profesional, dunia usaha dan dunia industri untuk membangun hubungan kolaboratif yang lebih konkret.
PROTEKNAS Festival 2026 digelar selama dua hari, 28 sampai 29 Agustus 2026, di Gedung Padepokan Pencak Silat, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta.
Dua agenda utama menjadi bagian dari gelaran tersebut, yakni Final Networking Competition 1.0 dan Expo Perangkat Sistem Keamanan Berbasis Teknologi.
“Kegiatan ini merupakan puncak dari rangkaian penyisihan Networking Competition yang sebelumnya melibatkan 34 SMK dari wilayah Jakarta dan Surabaya serta sekitar 40 teknisi profesional yang berasal dari tiga wilayah kepengurusan PROTEKNAS, yakni Banten, Jawa Barat dan Jawa Timur.” ucap Taufik kepada media.
Menurut Taufik, kompetisi sengaja ditempatkan sebagai salah satu instrumen untuk mengukur kemampuan peserta dalam menghadapi persoalan teknis yang dekat dengan kebutuhan industri.
“Bagi PROTEKNAS, kompetisi bukan tujuan akhir. Kompetisi menjadi pintu masuk untuk menemukan talenta, mempertemukan sekolah dengan industri, sekaligus memetakan kompetensi yang masih perlu diperkuat.” terangnya.
*Empat SMK Tembus Final*
Setelah melalui tahapan penyisihan, empat peserta dari kategori SMK berhasil melaju ke babak final.
Keempat finalis tersebut berasal dari SMK Telkom Jakarta, SMK Said Naum Jakarta, SMK Telkom Malang, dan SMK YPM 1 Sidoarjo.
Sementara pada kategori teknisi profesional, empat finalis berasal dari jaringan DPD PROTEKNAS wilayah Banten, Jawa Barat dan Jawa Timur.
“Pertarungan di babak final tidak hanya menjadi ajang pembuktian kemampuan teknis. Peserta juga dituntut menunjukkan kemampuan menyelesaikan persoalan secara sistematis, presisi dan sesuai dengan standar kompetensi yang dibutuhkan di lingkungan kerja.” jelasnya.
Dari kategori SMK, Davin Avino Soegandono dari SMK Telkom Jakarta berhasil meraih juara pertama.
Posisi kedua ditempati Fatir Tegar Natagalih dari SMK Telkom Malang, sedangkan Irsyad Fahrurrozi dari SMK Said Naum Jakarta meraih juara ketiga.
Adapun Alfath Raziq Abi Nugroho dari SMK YPM 1 Sidoarjo meraih juara harapan.
Untuk kategori profesional, Andang Effansyah dari DPD Banten keluar sebagai juara pertama.
Juara kedua diraih Kamin dari DPD Jawa Barat, sementara Harti Manto dari DPD Jawa Timur menempati posisi ketiga.
Adapun Dimas Anton Irwanto dari DPD Jawa Timur meraih juara harapan.
“Hasil juara memperlihatkan bahwa kompetisi networking tidak hanya menjadi panggung bagi peserta didik SMK. Para teknisi profesional pun diberi ruang untuk menguji kemampuan sekaligus bertukar pengalaman.” imbuhnya.
*Expo Teknologi Jadi Ruang Pertemuan*
Selain kompetisi, PROTEKNAS Festival 2026 menghadirkan expo perangkat sistem keamanan berbasis teknologi.
“Dalam kegiatan ini sejumlah perusahaan dan merek teknologi turut ambil bagian. Di antaranya Toshiba Harddisk, Haier AQUA AC dan TV, Redstone IP PABX, TOA Galva Soundsystem, ZKTeco CCTV, serta EZVIZ Smartlock.” tuturnya.
Expo juga menghadirkan berbagai brand lain yang bergerak di bidang software development, palang parkir, nurse call dan teknologi pendukung lainnya.
Bagi peserta dan pengunjung, expo tersebut menjadi ruang untuk melihat perkembangan teknologi secara langsung.
Tidak sebatas melihat perangkat, pengunjung juga dapat mendengarkan presentasi dari para sponsor dan memperoleh informasi mengenai produk-produk terbaru yang ditawarkan industri.
Dengan format tersebut, PROTEKNAS mencoba mengubah pola hubungan sekolah dan industri yang selama ini kerap berlangsung secara terbatas.
“Sekolah tidak hanya menjadi pengguna informasi mengenai perkembangan teknologi. Sebaliknya, industri didorong hadir lebih dekat dengan proses pembelajaran dan pengembangan kompetensi siswa.” paparnya.
*Menjawab Jurang Kompetensi*
Taufik Hidayat mengatakan gagasan utama festival tersebut berangkat dari persoalan yang masih dihadapi pendidikan vokasi: adanya jarak antara kemampuan lulusan SMK dan talenta yang dibutuhkan dunia industri.
Menurut dia, perubahan teknologi berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan perubahan materi pembelajaran di sekolah.
“Akibatnya, terdapat kemungkinan lulusan menguasai teori atau kompetensi tertentu, tetapi belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan perusahaan ketika memasuki dunia kerja.” Ungkapnya.
PROTEKNAS melihat persoalan tersebut membutuhkan kerja bersama.
Sekolah memiliki peran dalam membangun fondasi kompetensi. Dunia industri memiliki informasi mengenai kebutuhan aktual di lapangan. Sementara organisasi profesi dapat menjadi salah satu penghubung antara keduanya.
“Event ini adalah upaya PROTEKNAS menyambungkan hubungan kolaborasi aktif antara pihak Sekolah Menengah Kejuruan dengan pihak dunia industri dan dunia usaha,” kata Taufik.
Kolaborasi tersebut, kata dia, diarahkan untuk mendukung pencapaian pembelajaran lulusan SMK agar lebih sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri.
“Upaya itu juga dikaitkan dengan target yang dicanangkan Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan sejak Juni 2025, yakni mendorong keselarasan kompetensi pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja.” tambahnya.
Persoalan tersebut menjadi penting karena kualitas lulusan SMK sering kali diukur bukan hanya dari ijazah yang diperoleh, melainkan dari kemampuan aktual ketika memasuki lingkungan kerja.
*Dari Kompetisi Menuju Sinkronisasi Kurikulum*
PROTEKNAS tidak ingin festival berhenti setelah pemenang menerima penghargaan.
Menurut Taufik, rangkaian kegiatan akan dilanjutkan dengan program Sinkronisasi Kurikulum SMK.
“Model yang disiapkan antara lain pelatihan atau training berbasis kompetensi sesuai SKKNI (Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia) serta pengembangan kelas industri yang disesuaikan dengan kebutuhan sekolah.” terangnya.
“Model tersebut diarahkan agar kompetensi yang diberikan kepada siswa memiliki keterkaitan langsung dengan kebutuhan dunia kerja.” sambungnya.
Dengan demikian, hubungan sekolah dan industri tidak berhenti pada kegiatan kunjungan perusahaan, seminar atau pameran.
Lebih jauh, industri diharapkan dapat memberikan masukan mengenai kompetensi, teknologi, perangkat, metode kerja dan standar yang dibutuhkan.
Sekolah kemudian dapat mengadaptasi masukan tersebut dalam proses pembelajaran.
Pada tahap berikutnya, lulusan diharapkan memiliki kompetensi yang lebih relevan dengan kebutuhan pasar kerja.
“Inilah yang menjadi alasan PROTEKNAS menempatkan festival sebagai bagian dari agenda yang lebih besar.” tegasnya.
“Kompetisi menjadi alat pemetaan kemampuan. Expo menjadi jendela perkembangan teknologi. Sementara sinkronisasi kurikulum menjadi langkah lanjutan untuk membawa pengalaman tersebut masuk ke ruang pembelajaran.” tegasnya.
*Taufik Hidayat Luncurkan Website Resmi PROTEKNAS*
Dalam momentum PROTEKNAS Festival 2026, Taufik Hidayat juga melakukan peluncuran website resmi PROTEKNAS.
Website [www.proteknas.org](http://www.proteknas.org) diperkenalkan sebagai kanal informasi resmi organisasi dengan tampilan yang lebih segar dan informatif.
“Peluncuran tersebut menjadi bagian lain dari upaya PROTEKNAS memperkuat komunikasi organisasi di tengah perkembangan ekosistem digital.” Katanya.
Website diharapkan dapat menjadi pintu informasi bagi anggota, sekolah, teknisi profesional, dunia industri maupun masyarakat yang ingin mengetahui program dan kegiatan PROTEKNAS.
“Bagi organisasi yang bergerak di bidang teknologi dan kompetensi profesi, kehadiran platform digital juga menjadi bagian penting dari keterbukaan informasi.” Tuturnya.
*Menyiapkan Talenta, Bukan Sekadar Pemenang*
Jika dilihat secara lebih luas, PROTEKNAS Festival 2026 mencoba membawa kompetisi teknologi ke tujuan yang lebih besar.
“Pemenang memang mendapatkan penghargaan. Namun, tujuan utamanya adalah menciptakan ekosistem yang memungkinkan siswa SMK bertemu dengan kebutuhan nyata dunia kerja.” jelasnya.
“Kehadiran teknisi profesional dalam kompetisi juga memberi dimensi berbeda. Siswa dapat melihat bahwa kemampuan teknis tidak berhenti setelah lulus sekolah. Kompetensi tersebut dapat terus dikembangkan melalui pengalaman, sertifikasi, pelatihan dan keterlibatan langsung dalam industri.” sambungnya.
Di sisi lain, dunia industri memperoleh kesempatan untuk melihat talenta muda yang memiliki potensi.
Tantangan berikutnya adalah memastikan hubungan tersebut tidak berhenti setelah festival berakhir.
Program sinkronisasi kurikulum, pelatihan berbasis kompetensi dan kelas industri akan menjadi ujian berikutnya bagi PROTEKNAS dalam membuktikan gagasan tersebut.
“Jika berjalan konsisten, pola kolaborasi ini dapat menciptakan hubungan yang lebih erat antara sekolah dan dunia industri.” harapnya..
Pada titik itu, festival bukan lagi sekadar panggung perlombaan.
“Ini menjadi bagian dari proses panjang membangun sumber daya manusia vokasi yang mampu menjawab perubahan teknologi dan kebutuhan industri.” tutupnya.
PROTEKNAS Festival 2026 pada akhirnya menempatkan kompetensi sebagai titik temu: sekolah menyiapkan talenta, industri menyampaikan kebutuhan, dan organisasi profesi berusaha menjembatani keduanya.



