Curup, Rejang Lebong, MP-POLRI – Harga gas elpiji 3 kilogram di Curup, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu, kembali melambung tajam dan jauh melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET). Kondisi ini memicu kemarahan warga yang mempertanyakan peran Pertamina serta lemahnya pengawasan pemerintah di lapangan.

Pantauan di sejumlah titik menunjukkan harga gas elpiji 3 kg mencapai Rp35000 hingga Rp40.000 per tabung pengecer Padahal, gas bersubsidi tersebut diperuntukkan bagi masyarakat kurang mampu dan usaha mikro. Ironisnya, kelangkaan dan mahalnya harga terus berulang tanpa solusi nyata.

“Setiap bulan alasannya selalu sama, stok kurang. Tapi harganya makin gila. Pengawas ke mana? Pertamina ke mana? Kami masyarakat kecil yang selalu jadi korban,” tegas Roni (42), warga Curup, dengan nada kesal.

Kondisi ini juga menghantam pelaku usaha kecil. Mereka menilai pemerintah daerah dan Pertamina gagal memastikan distribusi tepat sasaran dan membiarkan dugaan praktik penimbunan serta permainan harga terjadi secara terang-terangan.

“Kalau pengawasan jalan, tidak mungkin harga setinggi ini. Kami patuh aturan, tapi yang nakal seolah dibiarkan,” kata Siti, pedagang gorengan di kawasan Pasar Atas Curup.

Sementara itu, salah satu pemilik pangkalan gas mengakui bahwa pengawasan di tingkat pengecer sangat minim. Bahkan, sidak dari instansi terkait disebut jarang dilakukan.

“Kalau memang ada pengawasan rutin, pengecer tidak berani menaikkan harga seenaknya. Masalah ini dibiarkan berlarut-larut,” ungkapnya.

Masyarakat mendesak Pertamina, Dinas Perdagangan, serta aparat penegak hukum untuk segera turun langsung ke lapangan, melakukan sidak menyeluruh, dan menindak tegas oknum yang mempermainkan gas elpiji 3 kg.

Jika dibiarkan, gas bersubsidi yang seharusnya membantu rakyat kecil justru berubah menjadi komoditas mahal yang hanya menguntungkan segelintir pihak.

Pertamina Dungu petugas lapangan jadi buta lihat penderitaan rakyat.

(fds)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan tulis komen anda!
Masukkan nama anda disini