
MP Polri Kab. Bandung – R.Yayat Yuliana, SE.MM, BBWS Dukung Komunitas Munding Dongkol (KMD) Untuk Jaga Budaya Sunda dan Kelestarian Alam Lingkungan Hidup Sungai Citarum.
BANDUNG- R.Yayat Yuliana, SE.MM Pembuat Komitmen Operasi dan Pemeliharaan I SDA Citarum BBWS Citarum menyampaikan bahwa keberadaan Komunitas Munding Dongkol (KMD) itu dalam rangka ikut menjaga Budaya Sunda dan kelestarian lingkungan hidup di Sepadan Sungai Citarum . ” Itu salah satu pemanfaatan Sepadan sungai yang tadinya kumuh banyak sampah ,” ungkap R Yayat Yuliana kepada Siliwanginews ,Kamis ( 16/7-2020).
R.Yayat Yuliana, SE.MM menambahkan , ” Saung ini multi fungsi, Saat musim hujan dijadikan saung pemantauan elevasi ketinggian sungai Citarum, sehingga komunitas dengann mudah memberikan informasi siaga banjir sungai Citarum, saat kemarau dijadikan ruang publik untuk meng edukasi warga serta anak-anak untuk selalu menjaga kebersihan sungai dan sekitar nya , ” ungkap R. Yayat Yuliana dengan senyum ramahnya dan terkenal sangat dekat dengan para pecinta olahraga bersepeda serta pengiat lingkungan hidup.
Yadi Supriadi alias Mang Acim, Ketua Komunitas Munding Dongkol menyampaikan, ” tadinya Sepadan sungai Citarum ini terdapat bangunan liar dan tempat pembakaran sampah-sampah , saat ini sudah mulai dibersihkan dengan bersinergi dengan warga masyarakat yang cinta dan peduli kepada sungai Citarum “.
Mang Acim yang berusia (39 tahun ) ini terlihat bersemangat ingin berusaha kembali menwujudkan citra sungai Citarum yang indah serta bermanfaat kembali bagi masyarakat, ” terlihat dengan adanya kegiatan sekolah Alam yang diprakarsai oleh Komunitas Munding Dongkol yang berlokasi di Sepadan sungai Citarum di RW 05, Kampung Bojongasih, Desa Dayeuhkolot, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung dan itu dinamai warga Kampung Citarum.
Kampung Citarum di sepadan Sungai Citarum berhasil disulap menjadi tempat berkumpul warga. Semula lahan tersebut merupakan tempat pembuangan sampah dan semak belukar.
Sebuah saung dibangun di sudut lahan yang lokasinya berada di sungai terpanjang di Jawa Barat itu.
Sekolah Alam Kampung Citarum, ini dengan bangunannya terbuat dari bahan bambu. Saung itu menjadi tempat untuk berkumpul warga, termasuk anak-anak untuk belajar dengan program Sekolah Alam.
“Konsepnya di saung itu akan dibuat semacam perpustakaan mini. Buku-bukunya merupakan sumbangan dari warga,” kata Yadi Supriadi (39) alias Mang Acim, Ketua Komunitas Munding Dongkol, kepada Siliwanginews, Kamis (16/7/2020).
Untuk mewujudkan Kampung Citarum ini Mang Acim berusaha dengan dukungan dari BBWS , menurut Mang Acim “Nanti diupayakan, tempat ini menyerupai kampung, seperti Kampung Bojongasih tempo dulu, yang air Sungai Citarum-nya bersih, dan ada tempat berkumpul dekat pohon bambu,” katanya.
Menurut Acim, pohon bambu adalah biopori raksasa, jadi harus tetap ada di Sepadan Citarum. Konsep Kampung Citarum juga begitu, kata Acim, harus ada pohon bambunya.
Kampung Citarum bermula dari warga yang ingin memiliki tempat yang representatif untuk berkumpul. Tempat itu masih belum beres seratus persen, namun Acim yakin keinginannya itu bisa terlaksana.
Menurut Acim, konsepnya sengaja dibuat seperti perkampungan. Selain ada saung, di sana juga dipasang sebuah kolecer atau baling bambu yang digerakkan oleh angin dan mengeluarkan suara khas.
Hidroponik sederhana pun, menurut Acim, bakal diupayakan untuk dibangun. Nanti, ibu-ibu warga setempat yang akan menanam dan mengurusnya. Termasuk juga, kata Acim, akan ada kolam lele dan kandang domba.
Di sekolah Alam Kampung Citarum Mang Acim juga berdiri tiang Bendera Merah Putih untuk membentuk anak-anak mempunyai jiwa dan rasa cinta tanah air dan semangat bela negara .
Mari kita Dukung Mang Acim Komunitas Munding Dongkol mewujudkan Sekolah Alam dan Kampung Citarum .
(Robinson)



