Media Purna Polri_Kota Bandung – Pesatnya perkembangan Fintech di Indonesia sangat dirasakan beberapa tahun terakhir ini, terutama di sektor payment system. Tercatat jumlah transaksi fintech di Indonesia pada tahun 2017 sebesar $18,65 Miliyar, dan diasumsikan pertumbuhan tiap tahunnya mencapai rata-rata 18,8%. Dunia hari ini sedang menghadapi fenomena disruption (disrupsi), situasi di mana pergerakan dunia industri atau persaingan kerja tidak lagi linear. Perubahannya sangat cepat, fundamental dengan mengacak-acak pola tatanan lama untuk menciptakan tatanan baru. Lahirlah model-model bisnis baru dengan strategi yang lebih inovatif dengan cakupan yang sangat luas. Lahir dan tumbuh-kembangnya beragam peluang dan kesempatan baru di era digital hingga terbentuknya tatanan ekonomi digital setelah melewati fase revolusi digital dan disrupsi digital. Penting bagi koperasi untuk menggunakan Digital Platform dalam layanan seluruh aspek organisasi, usaha, dan keuangan yang terintegrasi secara total. MyUKM adalah salah satu aplikasi yang bisa menjawab kebutuhan ini.
Heira Hardiyanti, Coop International Consultant dan penggiat koperasi di LSP2I (Lembaga Studi Pengembangan Perkoperasian Indonesia) kepada awak media mengatakan, “Dengan digital platform, Myukm akan membantu para pelaku usaha UMKM dalam mengelola dan mengontrol proses dan aktivitas usaha secara profesional, memberikan pelayanan terbaik kepada para anggota, bisa memberikan pelaporan yang up to date, akurat dan akuntabel sehingga membantu pengembangan usaha para anggota dengan cara bekerjasama secara kekeluargaan.”.
“Persoalan yang paling mendasar dari platform digital adalah kepemilikan, myUKM menjadikan kepemilikan sebagai sharing economy yang adil, dengan prinsip koperasi maka myUKM menjadi pilihan dalam platform economy digital yang tepat untuk kesejahteraan bersama”, tambah Heira.
Yang menjadi permasalahan bangsa ini adalah bergesernya pemahaman masyarakat Indonesia tentang koperasi. “Sering saya bertanya tentang pengertian koperasi kepada masyarakat umum yang tidak bergelut dengan koperasi, jawaban kebanyakan mereka adalah simpan pinjam, tempat pinjam uang, organisasi rentenir. Mereka sudah tidak memahami lagi koperasi sebagai sebuah sistem ekonomi yang berlandaskan gotong royong, kerjasama dan ekonomi berkeadilan”, ujar Heira.
Karena itu MyUKM ada untuk menjawab semua keprihatinan tersebut. CEO dan founder MyUKM, Aldi R Pramanda menyatakan bahwa MyUKM dalam perkembangannya merupakan sebuah sistem aplikasi keanggotaan koperasi sekaligus sebagai media mobile banking untuk melakukan aktivitas finansial oleh anggota koperasi, penerapan payment gateway dan Branchless Banking System (BBS). MyUKM juga akan mengembangkan fitur-fitur MyInvest,yaitu suatu program pembiayaan crowdfunding bagi para pelaku usaha UMKM, serta didalamnya terdapat fitur Financial technology, dan jual beli produk seratus persen lokal. (Wells)



