Jakarta, MP-POLRI

4 November 2026 – Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas (IKAL-Lemhannas), Prof. Dr. Ir. Purnomo Yusgiantoro, M.Sc., M.A., Ph.D., IPU., menegaskan bahwa sektor perkebunan memiliki peran strategis dalam memperkuat ketahanan nasional dan mewujudkan Indonesia Emas 2045. Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan International Conference & Expo on Palm Oil and Others (ICEXPO) 2026 di Auditorium Gedung F, Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta.

Dalam forum bertema “Collaboration on Sustainability and Prosperity of Palm Oil, Cocoa and Coconut for Smallholders” tersebut, Prof. Purnomo menyoroti tiga komoditas strategis, yakni kelapa sawit, kakao, dan kelapa, yang memiliki potensi besar dalam mendukung pertumbuhan ekonomi, ketahanan pangan, dan kemandirian energi nasional.

Menurutnya, kontribusi industri kelapa sawit terhadap perekonomian nasional antara lain tercermin dari surplus neraca perdagangan yang berkaitan dengan sawit dan implementasi program biodiesel B30 sebesar US$21,738 miliar. Kebijakan biodiesel juga menjadi instrumen penting dalam mengurangi ketergantungan terhadap impor energi fosil.

Prof. Purnomo menekankan bahwa pengembangan sektor perkebunan harus diarahkan pada hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk nasional. Kelapa sawit memiliki potensi pengembangan produk pangan, oleokimia, kosmetik, dan biofuel. Sementara itu, kakao dan kelapa juga memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi produk industri bernilai tambah tinggi.

Dalam perspektif ketahanan nasional, pembangunan sektor perkebunan perlu mengintegrasikan aspek sustainability (keberlanjutan) dan prosperity (kemakmuran). Pengelolaan sumber daya alam harus memperhatikan keseimbangan lingkungan sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang adil bagi masyarakat.

Prof. Purnomo juga mengaitkan penguatan sektor perkebunan dengan implementasi Asta Cita, khususnya kemandirian pangan, air dan energi, penciptaan lapangan kerja, pembangunan sumber daya manusia, hilirisasi, serta penguatan ekonomi dari desa. Dengan demikian, sektor perkebunan bukan semata-mata sektor ekonomi, melainkan bagian dari instrumen strategis ketahanan nasional.

Untuk mewujudkannya, diperlukan kolaborasi multipihak yang melibatkan pemerintah, dunia usaha dan industri, perguruan tinggi, masyarakat sipil, petani, UMKM, serta mitra internasional. Sinergi tersebut penting dalam memperkuat inovasi, teknologi, pembiayaan, kelembagaan petani, dan akses pasar.

Lebih lanjut, Ketua Umum IKAL-Lemhannas menegaskan tiga prinsip utama pembangunan sektor perkebunan, yaitu Growth, Equity, and Human Resource Development (HRD).

Growth menekankan peningkatan produktivitas, inovasi, dan daya saing. Equity mengedepankan pemerataan manfaat pembangunan, khususnya bagi pekebun rakyat. Sementara Human Resource Development menitikberatkan pada peningkatan kualitas dan kompetensi sumber daya manusia agar mampu beradaptasi dengan transformasi teknologi dan industri.

Ketiga prinsip tersebut menjadi fondasi untuk mewujudkan pembangunan perkebunan yang inklusif dan berkelanjutan. Hal ini sekaligus mendukung empat sasaran strategis Indonesia Emas 2045, yaitu penguatan SDM dan IPTEK, pemerataan pembangunan, ekonomi berkelanjutan, serta ketahanan nasional dan tata kelola pemerintahan.

Melalui ICEXPO 2026, Prof. Purnomo mengajak seluruh pemangku kepentingan memperkuat sinergi dalam mentransformasikan potensi perkebunan Indonesia menjadi kekuatan ekonomi nasional yang berdaya saing global, berkeadilan, dan berkelanjutan.

Bagi IKAL-Lemhannas, penguatan sektor perkebunan merupakan bagian dari strategi besar membangun kemandirian ekonomi dan ketahanan nasional menuju Indonesia Emas 2045.

(Hms_ben)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan tulis komen anda!
Masukkan nama anda disini