MEDIA PURNA POLRI,KALTENG- Team  media mpp group bersama LBH Ahlus Sunnah kerja bareng dampingi warga Dsn Tengah kel Pak Johan Djarudan Cs mediasi konflik lahan keluarganya dengan Pak Hui yang diwakili Pak Bina warga Desa Sibung Kec Dsn Tengah Ampah.

Hadir dalam musyawarah tukar dokumen Pak Kantibmas dan Pak Babinsa Ke Paju Epat,sangat santun dan adil,tidak memberikan dukungan kepada pihak yang bermasalah,sebatas memberikan masukan dan saran-saran dalam rembuk tukar data tersebut.(16/01/2020).

Kehadiran tim mpp sangat membantu kelancaran mediasi tukar data tersebut,para pihak layaknya di persidangan secara berurutan memberikan penjelasan riwayat tanah yang disertai bukti-bukti kepemilikan dan latar belakang masing-masing.

Akhir acara tukar data tersebut,berlanjut kepada cek lapangan yang direncanakan turun lokasi tgl 21 Januari th 2020 mendatang dengan agenda melacak tata batas antara areal Pak Hui dengan hak milik keluarga Pak Johan Djarudan yang diduga terjadi tumpang tindih tata batas tanah.

Data formal tanah Pak Hui berlokasi di km 57 dan tanah areal milik keluarga Pak Johan Cs pun berada diareal yang sama,terjadi tumpang tindih areal lahan.

Tetapi muasal lahan Pak Hui dari format kontrak jual beli berada di km 58 berdampingan dengan areal milik keluarga Pak Johan Cs(7 orang), nah di SKT Pak Hui letak obyek tanah berada di km 57 tetapi di akta jual beli berada di km 58 terjadi kejanggalan dan diduga ada kesalahan administrasi dokumen tanah di Desa Telang Baru oleh Kades lama th 2012 lalu,lalu bagaimana aspek legal formal SKT milik Pak Hui yang diwakili Pak Bina ?,jawabanya akan dirembuk ulang tgl 21 Januari 2020 mendatang sambil cek fisik sesuai akta jual beli Pak Hui dengan pihak ke-3 yang diduga sebagian warga Desa Telang Baru.

Berdasarkan bukti fakta dan bukti lapangan,serta logika sehat bahwa areal di km 58 berbeda dengan areal km 57 diperkirakan letaknya berdampingan.Pertanyaan muncul apa dasar SKT milik Pak Hui yang diwakili Pak Bina tersebut berbeda data,di akta jual beli lokasi obyek yang dibeli Pak Hui di km 58, tetapi di fakta formal SKT th 2012 berada di km 57 tumpang tindih dengan lokasi hak waris keluarga Pak Djohan Djarudan.

Hak waris keluarga Djohan Jarudan Cs didukung SKT,kesaksian,riwayat tanah,cukup kuat dari aspek hukum meski dibuat th 2019 lalu,intinya obyek tanah riwayat,kesaksian,dan bukti formal SKT tidak ada pertentangan,secara logika hukum belum ada dugaan penyimpangan.

Untuk SKT Pak Hui,muncul masalah terkait lokasi tanah di km 58 pindah ke km 57 tanpa dasar alasan yang jelas,ditambah penjelasan kel Pak Djohan Jarudan ada indikasi pembuatan akta jual beli antara Pak Hui dengan penjual diketahui dan ditanda tangani Kepala Desa yang sudah meninggal dunia,jika hal ini bisa dibuktikan secara hukum artinya diduga ada rekayasa akta jual beli sejak awal Pak Hui membeli dari warga setempat,sayangnya penjual lahan tersebut sudah meninggal dunia dan sebagian pindah domisili ke Desa lain,ada juga yang warga Desa lain tetapi ikut menjual lahan yang berlokasi di km 58 Desa Telang Baru Kec Paju Epat Kab Barito Timur Prov Kalimantan Tengah.

Beban pembuktian berada pada Pak Hui karena pihak yang mengakui memiliki hak benda tidak bergerak dalam hal ini lahan darat sekitar 7 Ha lebih,sekaligus masuk lahan hak waris areal kel Pak Djohan Jarudan 100%,artinya milik kel Pak Djohan habis diklaim SKT milik Pak Hui,lalu siapa yang benar siapa salah, kita lihat lanjutan ke tahap mediasi lahan setelah masing-masing pihak mengkaji validitas data yang ada,kita tunggu lanjutan liputan mpp Kalteng.(TS,SH)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan tulis komen anda!
Masukkan nama anda disini