Media Purna Polri, NTT — Sidang perdana kasus tindak pidana penyerobotan tanah milik Masjid Nurussa’adah Kupang yang diduga di lakukan oleh Joe Saeketu terletak di Kelurahan Penkase Oeleta, Kecamatan Alak, Kota Kupang, telah di gelar di pengadilan Negeri Kupang Klas I A Kupang, Selasa (7/1/2020).

Sidang tersebut di pimpin oleh Majelis Hakim, Fransiskus W Mamo, SH, MH, Jaksa Penuntut Umum (JPU), Abdul Rahman, SH, terdakwa Joel Saeketu didampingi oleh Kuasa hukumnya, Marthen Dillak, SH, MH dan dari pihak Masjid Nurussa’adah Kupang sekaligus saksi terlapor, Drs. H Muhamad Djafar.

Dalam kesaksian pelapor, Muhamad Djafar mengatakan, bidang tanah tersebut adalah benar milik Masjid Raya Nurussa’adah Kupang. Bahwa semula yang membeli bidang tanah tersebut adalah Almarhum Timboel Sjaerodji. di beli dari orang tua kandung terdakwa (Joel Saeketu) yaitu Thobias Saeketu pada tahun 1976.

Setelah membeli bidang tanah tersebut maka Almarhum Timboel Sjaerodji mewakafkannya kepada Drs. H. Mohamad Djafar atas nama Masjid Raya Nurussa’adah Kupang.

“Pada waktu penyerahan dokumen tanah kepada saya sebagai tanah wakaf Masjid Raya Nurussa’adah Kupang, Almarhum Timboel Sjaerodji, hanya menyerahkan satu lembar kwitansi jual beli dan satu buah surat pernyataan jual atas bidang tanah tersebut, kata Muhamad Djafar.

“Luas bidang tanah yang tertera di dalam kwitansi jual yang diserahkan oleh Almarhum Timboel Saerodji kepada Masjid Raya Nurussa’adah Kupang adalah 5. Hekto are. Setelah menerima dokumen tanah wakaf, maka Masjid Raya Nurussa’adah Kupang mengurus sertifikat, dan pada tahun 1991 keluarlah Sertifikat Hak Milik (SHM) Nomor : 12 desa Alak dengan nama Drs. H. Mohamad Djafar atas nama Masjid Raya Nurussa’adah Kupang. luas bidang tanah yang tertera dalam sertifikat adalah 5 hekto are lebih dan satu buah GS (Gambar Situasi) yang belum bersertifikat dengan luas 2 hekto are lebih,” jelas Djafar.

Kesaksian Mohamad Djafar dimuka majelis hakim, bahwa setelah Masjid Raya Nurussa’adah Kupang memperoleh sertifikat dan GS (Gambar Situasi) atas bidang tanah tersebut maka datanglah ahli waris Alamrhum Thobias Saeketu yaitu terdakwa (Joel Saeketu) dan saudara – saudaranya untuk meminta negosiasi terkait bidang tanah tersebut.

“Kami pihak Masjid Raya Nurussa’adah Kupang tidak paham makasud permintaan negosiasi tersebut maka kami tidak menyetujui dilakukan negosiasi. Kemudian para ahli waris melapor ke Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Kupang sehingga BPN memfasilitasi untuk dilakukan mediasi,” ungkapnya.

Proses mediasi dilakukan sebanyak tiga kali. dalam mediasi kepala BPN Kota Kupang Sumral B. Manoe meminyarankan agar demi kemanusiaan sebaiknya tanah tersebut di bagi dua saja.

Kemudian pada pertemuan mediasi ketiga tahun 2016, para pihak yang hadir yaitu Drs. Mohamad Djafar mewakili Masjid Raya Nurussa’adah Kupang, ahli waris dari Almarhum Thobias Saeketu yakni Joel Saeketu dan saudara – saudaranya, kepala BPN Kota Kupang, Sumral B. Manoe, ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI) Kota Kupang, H. Muhamad di sepakati agar tanah tersebut di bagi menjadi dua.

Dengan pembagian untuk Masjid Raya Nurussa’adah Kupang mendapat 3 ( tiga) hekto are lebih sementara ahli waris dari Thobias Saeketu mendapat 2 (dua) hekto are lebih.

Dasar dari pada kesepakatan itu kemudian kepala BPN Kota Kupang, Sumral B. Manoe dan petugas ukur turun ke lokasi melakukan pengukuran sekaligus penetapan batas pembagian dan keluarlah peta bidang pembagian oleh Badan Pertanahan Kota Kupang. Dalam pengukuran tersebut turut hadir Lurah Penkase Oeleta, Kasipem, Sekcam bersama staf, dan sejumlah Tokoh Masyarakat Penkase Oeleta.

Saksi Mohamad Djafar juga mengakui bahwa di tahun 2017 baru Ia mengetahui kalau terdakwa Joel Saeketu telah mengkapling dan melakukan penjualan terhadap tanah tersebut. Padahal belum dilakukan pemecahan terhadap sertifikat induk. Karena pihaknya masih menunggu jawaban atas surat yang di kirim kepada Badan Wakaf Pusat.

Ternyata Badan Wakaf Pusat datang ke kupang dan mengatakan bahwa tidak setuju dengan pembagian tersebut dengan alasan ada aturan tentang wakaf, bahwa tanah Wakaf tidak boleh dibagi atau diberikan kepada siapapun.

“Setelah saya mengetahui bahwa terdakwa telah melakukan kapling dan menjual bidang tanah bagian terdakwa sesuai peta yang diterbitkan pertanahan maka saya melaporkan terdakwa sebagai penyerobotan,” ungkap Muhamad Djafar.

Sidang akan dilanjutkan pada pekan depan, Selasa 14 Januari 2020 dengan agenda masih dalam pemeriksaan para saksi.

Usai sidang kuasa hukum terdakwa Joel Saeketu, Marthen Dillak, SH, MH kepada media ini mengatakan, proses transaksi jual beli antara Almarhum Thobias Saeketu dengan Almarhum Timboel Sjaerodji juga janggal karena dalam dokumen transaksi hanya antara penjual dan pembeli serta beberapa saksi. namun tidak melibatkan ahli waris dari penjual Almarhum Thobias Saeketu ( Isteri dan Anak-Anaknya).

“Inikan aneh. masak Suami menjual tanah lalu Isteri serta Anak-Anaknya tidak tau dan tidak dilibatkan. Apalagi ini Isteri sah dari Almarhum ThobiasSaeketu,” ungkap Dillak merasa aneh.

Maerthen melanjutkan, Kemudian saksi terlapor Drs. H. Mohamad Djafar. Dalam proses mediasi di BPN, dia (Muhamad Djafar – Red) yang menyetujui untuk tanah tersebut di bagi dua sehingga pertanahan melakukan pengukuran dan pembagian lalu klien saya menguasai hak dari pembagiannya itu lalu kenapa dilaporkan sebagai penyerobotan?.

“Kalau terkait Badan Wakaf Indonesia (BWI) Pusat tidak setuju untuk tanah tersebut di bagi, saya rasa itu urusan antara Drs. H. Muhamad Djafar dengan BWI pusat. yang jelas klien saya berpatokan pada pembagian dari hasil mediasi itu. Dan ingat bahwa dalam sertifikat tersebut atas nama Drs. H Muhamad Djafar dan beliau setuju untuk tanah tersebut di bagi,” jelas Marthen Dillak.

(Team)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan tulis komen anda!
Masukkan nama anda disini