MEDIA PURNA POLRI,TANGERANG – Sampah plastik biasanya berakhir di pembuangan atau pun hancur dengan cara dibakar agar tidak menjadi salah satu penyebab banjir di wilayah perkotaan.

Berbeda dari kebanyakan, di Panti Sosial Bina Karya (PSBK) Harapan Jaya, sampah plastik disulap menjadi produk kerajinan tangan yang unik oleh warga binaan wanita, yang mayoritas dari mereka adalah gelandangan atau tuna karya.

Kepala PSBK Harapan Jaya, Susan Jasmine Zulkifli menilai warga binaan wanita ini dapat memperkaya pengetahuannya dengan ikut pelatihan ini. “Di sini, warga binaan yang perempuannya dilatih menganyam dari sampah plastik menjadi tas, dompet, bahkan tikar. Saya berharap mereka memiliki itikad untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi, misalnya dengan berwirausaha,” ungkap Susan pada Jumat (29/3).

Dengan menganyam, lanjut Susan, kemampuan motorik warga binaan secara tidak langsung dapat terlatih. “Ini kan sebenarnya juga masuk kategori terapeutik. Dimana daya konsentrasi mereka, daya gerak tangan mereka dilatih supaya fokus. Itu kan pasti berpengaruh dengan cara berpikir mereka,” lanjutnya.

Kepala Satpel Pembinaan Sosial, PSBK Harapan Jaya, Mastur Hendry Abdul Malik menambahkan, dengan adanya pelatihan ini, diharapkan dapat menambah keterampilan warga binaan agar siap beraktifitas di luar saat sudah diperbolehkan bebas dari panti. “Jadi mereka punya bekal terampil. Nanti saat sudah dinyatakan ‘lulus’ dari panti, mereka bisa usaha sendiri,” ujar Mastur.

Warga binaan wanita PSBK Harapan Jaya melakukan kegiatan daur ulang sampah plastik ini pada pagi hari. Pertama mereka menyuci terlebih dahulu sampah yang didapat. Kemudian dikeringkan dan dipilah. Setelah itu, penganyaman mulai dilakukan dan menghasilkan berbagai produk kerajinan, mulai dari dompet, tas, dan tikar.

Adapun sampah yang didapat biasanya berupa bungkus kopi dan bungkus deterjen, hasil dari penggunaan mereka sendiri. “Ada macam-macam. Bungkus kopi, deterjen, kadang cemilan. Yang bisa dibikin tas ya dibikin,” jelas Nur, salah satu pendamping warga binaan.

Selain kerajinan berbahan sampah plastik, mereka juga membuat gantungan kunci dan berbagai hiasan dinding. Hasil karya mereka kemudian dipajang di berbagai sudut ruangan panti dan dipamerkan ketika ada pergelaran acara. Tak jarang, banyak pengunjung panti ataupun tamu yang hadir, tertarik untuk membelinya.

“Saat dipajang, biasanya banyak pengunjung atau tamu yang nawar. Kami bandrol untuk gantungan kunci 10 ribu, tas 30 ribuan,” pungkasnya.(Dessi)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan tulis komen anda!
Masukkan nama anda disini