Oleh : Kompol (P) H. Moch. Abdurochim

Setiap tahun aksi teror terjadi di wilayah Indonesia. Baru-baru ini terjadi aksi teror di Mako Brimob Depok dan Gereja SMTB di Ngagel Surabaya. Media Purna Polri sangat mengutuk aksi teror yang dilakukan oleh para teroris, dan turut berduka atas peristiwa yang menimpa korban-korban aksi terorisme.
Terorisme adalah serangan-serangan terkoordinasi yang bertujuan membangkitkan perasaan teror terhadap sekelompok masyarakat. Berbeda dengan perang, aksi terorisme tidak tunduk pada tatacara (adab) peperangan, seperti waktu pelaksanaan yang selalu tiba-tiba dan target korban jiwa yang acak serta seringkali merupakan warga sipil (sumber Wikipedia – red).
Aksi teror sungguh tidak beradab. Dunia pernah mengalami masa perang, walaupun penulis tidak setuju dengan aksi peperangan, namun perang mempunyai adab yang harus dipatuhi oleh pihak-pihak yang berperang. Dan perang bisa dicegah melalui diplomasi. Tapi tidak demikian dengan aksi terorisme. Pelaku teror hanya memandang dan memaksakan prinsip kebenaran dari satu sisi golongan mereka saja. Bila tidak sejalan, maka mereka mengorbankan golongan-golongan yang berprinsip salah menurut kacamata mereka.
Umumnya aksi terorisme dilatarbelakangi oleh faktor-faktor SARA, yaitu Suku, Agama, Ras, dan antar golongan. Dari sejarah dunia, terorisme diawali dari konflik-konflik SARA yang sudah berbaur jadi satu. Contohnya adalah konflik Palestina, konflik India-Pakistan, konflik Serbia-Bosnia adalah konflik antar golongan dan Agama yang telah jadi satu. Pembunuhan jutaan yahudi oleh Hitler adalah contoh konflik Ras dan Agama yang telah jadi satu. Konflik Tutsi-Hutu di Rwanda (Afrika Tengah) adalah kombinasi antar suku dan antar golongan. Konflik di Nigeria adalah adalah antara Agama dan Suku.
Berbagai teori telah dikembangkan untuk menjelaskan mengapa konflik-konflik itu berulangkali terjadi. Namun hal yang paling mendasari dari terjadinya teroris adalah sifat merasa diri paling benar atau paling baik. Sifat yang dimiliki oleh iblis, sehingga dia diusir dari surga oleh Alloh. Sifat ini berkembang di dalam diri anak-cucu Adam, dan menjadi semakin komplek seiring dengan semakin tuanya usia dunia. Generasi berganti, namun sifat-sifat merasa diri paling baik atau paling benar tidak hilang dari generasi-generasi yang lahir ke dunia.
Kelompok teroris mengembangkan sifat paling baik dan paling benar, intinya adalah kelompok ini beranggapan bahwa kelompoknya adalah yang terpilih atau dipilih oleh Yang Maha Kuasa sebagai kelompok yang paling utama atau paling unggul, karenanya kelompok lain boleh disakiti atau dibunuh.
Melihat sejarah dunia yang penuh dengan konflik, maka Republik Indonesia yang kita cintai ini didirikan dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, berasaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Namun para kelompok teroris yang berasaskan pada SARA tentunya tidak bisa menerima asas ini. Mereka menghasut, menyebarkan faham satu golongan demi mencapai tujuan-tujuan mereka. Namun yang paling berbahaya adalah bahwa kelompok ini secara langsung ataupun tidak langsung sering dipergunakan oleh para elite politik Indonesia untuk mencapai tujuan mereka. Para elite politik sering menggunakan isu-isu SARA untuk mengembangkan rasa ketidakpercayaan masyarakat kepada pemerintah. Ketidakpercayaan inilah yang sekarang mendominasi konflik-konflik di Indonesia. Ditambah lagi dengan aksi mengompori oleh media massa. Bertambah panaslah situasi dan kondisi masyarakat. Masyarakat tidak percaya lagi kepada aparatur pemerintahan seperti Presiden, DPR, TNI, Kepolisian, KPK dan lembaga lainnya. Akhirnya timbul perasaan tidak berdaya di masyarakat, yang menyebabkan masyarakat bertindak main hakim sendiri dan akhirnya melakukan aksi teror demi mencapai tujuannya.
Karena itu perlu adanya himbauan, penyuluhan dan penegakan keadilan yang intens dan tersistematis untuk menumbuhkan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah, sehingga aksi-aksi main hakim sendiri dan aksi terorisme bisa dicegah. Masyarakat perlu dididik secara intensif agar selalu menempatkan kepentingan publik di atas kepentingan pribadi dan golongan, yang mana bila mengetahui dan menduga sebuah rencana tindak terorisme, maka akan segera melaporkan kepada aparat dan tidak menyembunyikan informasi itu karena ketidakpercayaan kepada aparat.
Dan kepada Aparatur Negara, hendaknya bekerja untuk kepentingan masyarakat, sehingga keselamatan nyawa warga masyarakat bisa terjaga. Para elite politik tidak menyalahgunakan isu-isu SARA untuk kepentingan kemenangan Pemilu, ingatlah bahwa pemilu bertujuan untuk memilih Pemimpin yang bisa memberikan kesejahteraan dan kedamaian kepada masyarakat, bukan memberikan teror bagi masyarakat. Semoga Bangsa Indonesia selalu dirahmati hingga akhir zaman, dan diberikan pemimpin-pemimpin yang mampu membawa kepada kesejahteraan dan kedamaian bagi seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Salam Persatuan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan tulis komen anda!
Masukkan nama anda disini