MEDIA PURNA POLRI,JAKARTA- Intelijen dan politik adalah hal yang tidak bisa dipisahkan, Politik sebagai cara- cara mendapatkan kekuasaan,merebut,dan mempertahankan kekuasaan sementara Intelijen merupakan rangkaian yang dapat dilakukan untuk mencapai dan merebut kekuasaan itu sendiri.

Buku Intelijen dan Pilkada yang belum lama ini baru diluncurkan karya Stepi Anriani M.Si adalah seorang kandidat doktor bidang kebijakan publik dari Universitas Indonesia yang tertarik pada dunia Intelijen,Pertahanan,Dan politik.

Mengatakan politik yang saat ini dirasakan masyarakat tak luput dari hal hal negatif seperti Hoax,Politik identitas dan Politik uang.

Pendekatan Intelijen dapat menjadi sebuah tawaran bagi kandidat maupun tim sukses agar tidak melakukan upaya instan dengan Money Politic maupun hal hal negatif lainnya jelas Stepi Anriani.

Buku setebal 241 halaman ini mengenalkan Intelijen diawal buku sebagai informasi,Pengetahuan ,Produk,Kegiatan,Proses,Organisasi dan Profesi.

Di era millenial dimana media sosial berkembang pesat, Sejak itulah medan politik tak lagi sama.Media sosial akhirnya menjadi alat untuk mempengaruhi mindset generasi muda,Media sosial bukan lagi hanya untuk mengumpulkan sumbangan kampanye seperti era sebelumnya, Namun juga mobilisasi pemilih mengambang jelas Stepi.

Dan ketahuilah pula bahwa penguasa media sosial saat ini adalah generasi millennial.Pada pemilu 2019 jumlah pemilih millenial akan mencapai 86 juta jiwa atau 48% dari populasi pemilih.Mereka adalah anak- anak muda, Dengan nilai- nilai kreativitas,Kemajuan, Dan berpikiran terbuka.

Untuk mendapatkan simpati pemilih dengan karateristik ini,Parpol tidak bisa berharap pada model pembagian sembako,Kaos maupun stiker.

Buku ini penting dibaca untuk para calon Kepala Daerah ,Tim sukses dan siapa saja yang menaruh perhatian pada politik dan pemerintahan.Dengan menerapkan strategi Intelijen dimasa mendatang diharapkan generasi muda yang berkualitas ,Para Aktivis,Tokoh Pemuda yang cerdas,Mampu memanajemen organisasi dengan baik mau terjun ke politik tanpa harus mengkwatirkan ” Saya tidak punya uang”. ( Dessi)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan tulis komen anda!
Masukkan nama anda disini