Murung Raya, MP-POLRI – Semangat menjaga warisan budaya asli Kalimantan terasa begitu kental di Kabupaten Murung Raya. Gedung Olahraga Tana Malai Tolung Lingu menjadi pusat perhatian saat Turnamen Balogo Open se-Kalimantan Piala Murung Raya Hebat 2026 resmi dibuka pada 6–7 November 2026. Tak tanggung-tanggung, sebanyak 102 tim dengan sekitar 306 pegiat turun ke lapangan, datang dari tiga provinsi sekaligus, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.

Balogo atau Belogo bukan sekadar permainan biasa. Di balik kesederhanaannya, tersimpan kearifan leluhur yang memadukan ketangkasan tangan, ketajaman berpikir, dan jiwa kebersamaan. Menggunakan kepingan dari tempurung kelapa serta tongkat pemukul berbahan bambu atau kayu, tujuannya jelas, merobohkan kepingan milik lawan dengan teknik terbaik yang dimiliki.

Antusiasme yang meluap-luap disambut rasa syukur oleh Seniadinoor, Ketua Panitia sekaligus Ketua GOBI Murung Raya. Di tengah keterbatasan anggaran, semangat tak pernah surut.

“Peserta datang dari 10 Kabupaten di Kalimantan Selatan, berbagai wilayah di Kalteng, hingga perwakilan dari Kaltim. Ini bukti nyata Balogo kini sudah melampaui batas daerah, bahkan mulai dikenal hingga tingkat nasional,” ujarnya.

Lebih dari sekadar ajang adu keahlian, turnamen ini menjelma jembatan silaturahmi antarwarga lintas daerah. Seniadinoor pun berharap Balogo semakin mendapat tempat yang layak, mulai dari rutin hadir dalam rangkaian HUT Kabupaten Murung Raya, hingga tampil di Festival Budaya Isen Mulang tingkat provinsi.

Wakil Bupati sekaligus Ketua KORMI Murung Raya, Rahmanto Muhidin, memberikan apresiasi tinggi. Baginya, Balogo adalah cerminan karakter masyarakat: melatih kejujuran, kesabaran, kerja sama, dan strategi yang matang.

“Warisan leluhur ini harus terus hidup di tengah gempuran zaman. Lewat Balogo, kita jaga identitas kita sebagai anak Kalimantan,” tegasnya. Ia juga mengusulkan agar Balogo resmi masuk cabang pertandingan Festival Tira Tangka Balang 2027, baik versi tradisional maupun modern.

Bupati Murung Raya, Heriyus, menyambut baik semangat tersebut. Ia menegaskan Balogo adalah kekayaan budaya yang tak ternilai harganya.

“Di era digital ini, kita ingin anak muda tetap bangga memainkan warisan sendiri. Semoga turnamen ini tak hanya melahirkan juara, tapi juga mempererat persaudaraan antar daerah se-Kalimantan,” ucap Heriyus.

Pemerintah daerah berkomitmen penuh terus mendukung pelestarian budaya dan olahraga tradisional di Bumi Tana Malai Tolung Lingu.

Dengan total hadiah senilai Rp 40 juta dan beragam penghargaan menarik yang diperebutkan, Balogo Open 2026 lebih dari sekadar kompetisi. Ini adalah bukti hidup: budaya asli Kalimantan tetap relevan, dicintai, dan dijaga dengan penuh kebanggaan oleh generasi penerus. Semoga Balogo terus berkibar, melangkah lebih jauh, dan dikenal oleh semakin banyak orang di masa mendatang.

(M.Ilmi)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan tulis komen anda!
Masukkan nama anda disini