DEFINISI PENCINTA ALAM: Sebuah Cermin Retak
Definisi yang dirumuskan di bawah dinginnya kabut Manglayang itu berbunyi: “Pencinta Alam adalah sekelompok manusia, yang bertakwa pada Tuhan Yang Maha Esa, terdidik, terlatih, serta bertanggung-jawab, dan bertujuan untuk menjaga dan memelihara Alam.”
Mari kita bedah dengan pisau yang tajam.
1. Sekelompok Manusia (Bukan Pertunjukan Solo) Pencinta Alam didefinisikan sebagai “kelompok”. Ini tamparan keras buat individualisme modern. Dia bicara soal organisasi, nilai, kultur. Seperti orang Jawa atau Batak yang terikat nilai luhur, kita juga begitu. Ada kontrol sosial di sana. “Konsekuensinya?” Kalau kamu merasa bisa hidup semau gue, melanggar aturan, merasa paling hebat sendiri di gunung—kamu bukan Pencinta Alam. Kamu cuma turis yang tersesat. Eksistensi individual yang egois nggak punya tempat di sini.
2. Yang Bertakwa pada Tuhan Yang Maha Esa Jangan artikan ini secara dangkal. Pinjam pemikiran Buya Hamka: takwa itu “memelihara hubungan”. Gimana mungkin kamu ngaku bertakwa (memelihara hubungan dengan Tuhan) tapi merusak ciptaan-Nya? “Konsekuensinya?” Memelihara alam butuh ilmu. Kalau kamu males belajar botani, navigasi, atau konservasi, berarti kamu malas memelihara hubungan vertikal itu. Kebodohan di alam liar adalah bentuk pengingkaran terhadap takwa.
3. Terdidik (Melawan Otot Tanpa Otak) Pencinta Alam itu “learning organization”. Kita makhluk yang berpikir, bukan kerbau. Prosesnya berjenjang—dari LOTS (cuma tahu) sampai HOTS (bisa analisis dan cipta). “Konsekuensinya?” Mereka yang cuma andalkan otot, naik gunung tanpa bekal ilmu, tolak pendidikan berjenjang—nggak layak menyandang gelar ini. Keberanian tanpa ilmu itu bunuh diri.
4. Terlatih (Habituasi Nilai) Ilmu nggak berguna kalau nggak mendarah daging. Keahlian navigasi, survival, sampai etika—harus didapat dari repetisi. Pengulangan yang membosankan sampai jadi “habits”, jadi kebiasaan. “Konsekuensinya?” Kalau kamu stagnan, merasa sudah jago dan males latihan, kamu akan teralienasi. Alam akan menyeleksi kamu dengan kejam.
5. Bertanggung Jawab Nggak ada kebebasan tanpa tanggung jawab. Setiap langkah di hutan, setiap keputusan dalam organisasi, harus bisa dipertanggungjawabkan—ke otoritas, ke publik, ke Tuhan. “Konsekuensinya?” Mereka yang lari dari tanggung jawab, yang nggak berani hadapi konsekuensi tindakannya—itu pengecut.
6. Bertujuan Hidup harus punya visi. Organisasi ini bukan tempat hura-hura. Visi Pencinta Alam adalah kebermanfaatan buat nusa dan bangsa. Kita alat perjuangan. “Konsekuensinya?” Kalau tujuanmu mendaki cuma buat pamer foto, selfie di bibir jurang demi “likes”—kamu udah melacurkan makna Pencinta Alam.
7. Untuk Menjaga dan Memelihara (Dualitas Jiwa) Di sinilah letak seni kehidupannya. “Menjaga” itu maskulin: logis, rasional, tegas seperti meronda kampung. “Memelihara” itu feminin: intuitif, penuh rasa, merawat seperti ibu. Pencinta Alam sejati harus punya keduanya. Nggak boleh timpang. Nggak boleh egois.
8. Alam Semesta Kita cuma debu di antara mikrokosmos (atom) dan makrokosmos (galaksi). Memisahkan manusia dari alam itu kesesatan berpikir. Mencintai alam harus dimulai dari mencintai diri sendiri sebagai bagian dari alam. “Konsekuensinya?” Tindakan konyol, nekat, mengabaikan prosedur keselamatan, nyiksa diri sendiri atas nama “petualangan”—itu bukti kamu belum mencintai alam. Kamu cuma lagi berjudi dengan nyawa.

Epilog: Jalan Masih Panjang
Mungkin kalian akan nyinyir, “Ah, terlalu suci definisi itu! Siapa yang sanggup?”
Tenang, Kawan. Lihat KTP-mu. Kamu berani cantumkan agamamu di sana, bukan karena ibadahmu sudah sempurna tanpa cela, kan? Kamu cantumkan karena kamu “berkomitmen pada prosesnya”. Kamu dinilai dari usahamu, bukan dari hasil akhir yang mutlak.
Begitu juga dengan gelar “Pencinta Alam”. Dia bukan medali yang kamu kalungkan setelah sampai puncak. Dia adalah “way of life”. Dia kompas batin agar kita nggak cuma jadi “trouble maker” yang merepotkan Tim SAR, tapi jadi “problem solver” bagi peradaban.
Definisi ini… Bacanya cuma butuh setengah menit. Memahaminya mungkin butuh diskusi berjam-jam. Tapi menghidupinya—butuh seumur hidup.
Entah apa yang terjadi di Makassar dua tahun lalu, itu nggak terlalu penting. Yang penting adalah apa yang terjadi di dalam hatimu hari ini. Sudahkah kamu jadi lebih baik dari dirimu yang kemarin?
Salam Lestari.

(Regicy | M51-001PDR)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan tulis komen anda!
Masukkan nama anda disini