Bogor, MP-POLRI

– Nama Jefri Tanjung mungkin belum setenar para petinju profesional yang telah lama menghiasi panggung tinju nasional. Namun di balik kesederhanaannya, tersimpan perjalanan panjang seorang petarung yang tidak hanya mengandalkan pukulan, tetapi juga ketekunan, disiplin dan keberanian untuk terus mengejar prestasi.

Sehari-hari, Jefri menjalani kehidupan sederhana sebagai pedagang kaki lima. Setiap sore ia berjualan di depan Pasar Ciawi untuk menghidupi keluarganya. Ia merupakan suami dari seorang PNS dan ayah dari satu orang putra.

Menariknya, kesibukan mencari nafkah tidak membuat Jefri meninggalkan dunia yang telah menjadi kecintaannya sejak lama: tinju.

Di sela aktivitasnya berjualan, Jefri tetap menyempatkan diri berlatih. Ia berlatih di Cakra Camp Rancamaya, Bogor, dan sesekali menjalani latihan di HWK Boxing Camp milik H. Welly Koto, SH.,di Cigombong, Bogor.

Bagi Jefri, menjadi petinju bukan sekadar persoalan naik ring dan mencari kemenangan. Tinju telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

Dari Tinju Amatir hingga Profesional

Sebelum terjun lebih jauh ke dunia tinju profesional, Jefri cukup lama malang melintang di arena tinju amatir. Ia pernah memperkuat wilayah Riau dan Bogor, bahkan sempat membawa nama Tangerang dalam perjalanan kariernya.

Pengalaman panjang tersebut menjadi modal berharga ketika Jefri mulai menapaki pertarungan profesional.

Hingga saat ini, Jefri tercatat telah menjalani 6 pertandingan, dengan catatan 4 kemenangan, 1 kekalahan dan 1 hasil imbang.

Rekor tersebut menunjukkan bahwa Jefri bukan petinju yang tiba-tiba muncul di atas ring. Ada proses panjang, latihan dan pengalaman yang telah dilaluinya.

11 September, Tantangan Baru di Ring TVRI

Kini tantangan baru menanti.

Pada Jumat, 11 September 2026, Jefri Tanjung akan tampil di Studio Auditorium Gedung Soeprapto, LPP TVRI Senayan, Jakarta, dalam gelaran FTPI Super Fight 2026.

Berdasarkan susunan partai, Jefri akan bertanding di kelas Feather Weight 126 lbs/57,153 kg dalam pertandingan 4 ronde menghadapi Rey Mundus Noka Jr., petinju dari Victory Target Boxing Camp Jakarta yang tercatat memiliki peringkat nasional.

Yang membuat perjalanan Jefri kali ini semakin menarik adalah statusnya sebagai petinju pengganti Ade Jackson.

Ade Jackson sebelumnya diproyeksikan menghadapi Rey Mundus Noka Jr. Namun karena mengalami cedera pada jari setelah terjepit pintu gerbang di Camp Cakra Rancamaya saat hendak menjalani latihan bersama tim, posisi tersebut kemudian dipercayakan kepada Jefri Tanjung.

Kesempatan itu tentu bukan perkara mudah.

Jefri harus menghadapi lawan yang sebelumnya telah dipersiapkan untuk menghadapi petinju lain, sementara dirinya sendiri tidak memiliki persiapan khusus untuk pertandingan tersebut.

Namun bagi Jefri, kesempatan tetaplah kesempatan.Tak Banyak Janji, Hanya Ingin Tampil Maksimal

Menariknya, Jefri tidak memasang target muluk-muluk.Ia menyadari dirinya tampil sebagai petinju pengganti dan tidak memiliki persiapan khusus menghadapi pertandingan ini. Karena itu, Jefri memilih bersikap realistis.

Ia tidak banyak berjanji. Ia hanya ingin memberikan penampilan terbaik.

Sikap tersebut justru memperlihatkan sisi lain seorang atlet: keberanian untuk menerima tantangan sekaligus kerendahan hati untuk tidak mengumbar kemenangan sebelum pertandingan berlangsung.

Bagi Jefri, naik ke atas ring sudah merupakan bentuk tanggung jawab sebagai seorang atlet.

Sementara itu, H. Welly Koto, SH. yang turut memberikan pembinaan dan pelatihan kepada Jefri, berharap anak didiknya mampu tampil bagus, tenang dan maksimal.

Harapan kemenangan tentu ada. Tetapi yang lebih utama adalah Jefri mampu menunjukkan kemampuan terbaiknya serta menjaga nama baik dirinya, sasana dan daerah yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan kariernya.

Dari Pedagang Kaki Lima, Menjadi Petarung di Panggung Nasional

Kisah Jefri menjadi menarik karena ia tidak datang dari kehidupan yang serba mudah.

Ketika banyak atlet harus fokus penuh pada latihan, Jefri masih harus membagi waktunya antara keluarga, mencari nafkah dan latihan tinju.

Pagi hingga siang menjalani kehidupan seperti masyarakat biasa. Sore hari berdagang kaki lima. Di sela-sela kesibukan itulah ia tetap menjaga latihan dan kebugarannya sebagai seorang petinju.

Cerita seperti inilah yang membuat perjuangan Jefri layak mendapatkan perhatian.

Ia membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti mengejar mimpi.

Tidak semua pahlawan olahraga lahir dari fasilitas mewah. Sebagian justru tumbuh dari jalanan, dari sasana sederhana, dari keringat mencari nafkah dan dari keberanian untuk terus mencoba.

Pada 11 September nanti, Jefri Tanjung akan kembali membuktikan satu hal:

bahwa seorang petarung sejati tidak selalu berbicara tentang seberapa besar peluangnya untuk menang, tetapi tentang seberapa berani ia menerima tantangan.

Dari lapak kaki lima di Ciawi menuju ring tinju TVRI Senayan.

Jefri Tanjung mungkin datang tanpa banyak janji. Tetapi ia datang membawa satu modal yang tidak pernah boleh hilang dari seorang petarung: keberanian untuk memberikan yang terbaik.

Selamat bertanding, Jefri Tanjung.

Menang adalah prestasi.

Berani naik ring dan memberikan yang terbaik adalah kehormatan.

(Hms_ben)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan tulis komen anda!
Masukkan nama anda disini