Bangkalaan Dayak, MP-POLRI – Wakil Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten, Durabil, memimpin pelaksanaan Ritual Adat Bawanang yang berlangsung di Balai Buntar, RT 05/RW 02, Desa Bangkalaan Dayak, pada 22-26 Agustus 2026. Ritual sakral ini merupakan tradisi turun-temurun masyarakat Dayak sebagai bentuk penghormatan dan permohonan keselamatan dari Tuhan Yang Maha Tunggal sekaligus doa agar hasil panen melimpah.

Bawanang, yang dimaknai sebagai rangkaian doa keselamatan, digelar bertepatan dengan siklus awal bulan, sebelum dan sesudah pelaksanaan bahuma (menanam padi). Masyarakat meyakini ritual ini menjadi jembatan spiritual antara manusia dengan Sang Pencipta untuk memohon berkah atas lahan pertanian mereka.

Selama prosesi ritual berlangsung, terdapat larangan adat yang mengikat seluruh warga. Masyarakat dilarang memetik atau mengganggu tumbuh-tumbuhan di sekitar area ritual selama sembilan hari sembilan malam. Pantangan ini dipercaya memiliki konsekuensi fisik, yakni dapat menimbulkan miang atau gatal-gatal bagi siapa pun yang melanggarnya, terutama jika beraktivitas ke hutan atau ladang.

Ritual ini menggunakan sejumlah peralatan adat yang sarat makna, di antaranya:

· Akar tali sebagai simbol pengikat persatuan

· Pucuk daun enau dan pucuk daun kelapa sebagai perlambang kehidupan

· Tali rotan dan tali ulur-ulur yang melambangkan keharmonisan

· Papan/pulau sebagai wadah sesaji

Acara diikuti oleh 12 hingga 17 kepala keluarga dari komunitas adat setempat, menunjukkan semangat gotong royong dan kebersamaan yang kuat dalam melestarikan tradisi leluhur.

Durabil menyampaikan harapannya agar pemerintah daerah dapat memberikan dukungan dan perhatian terhadap setiap pelaksanaan acara adat Bebalai yang digelar masyarakat adat.

“Kegiatan ini merupakan wujud syukur atas limpahan karunia dari Tuhan Sang Pencipta. Kami berharap Pemerintah daerah dapat membantu dalam setiap acara adat Bebalai yang dilaksanakan oleh masyarakat adat sebagai bentuk pengakuan dan pelestarian kearifan lokal,” ujar Durabil.

Ritual Bawanang menjadi bukti nyata bahwa kearifan lokal Dayak tetap terjaga di tengah arus modernisasi, sekaligus pengingat akan pentingnya harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta dalam kehidupan sehari-hari.

(MY)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan tulis komen anda!
Masukkan nama anda disini