
Kudus, MP-POLRI – Cerita lama yang setiap tahun selalu terulang lagi mengenai biaya perpisahan sekolah yang mencapai ratusan ribu rupiah menyita perhatian publik di Kabupaten Kudus.
Sorotan tajam ini muncul di tengah gencarnya imbauan efisiensi anggaran dari pemerintah, serta larangan keras menggelar seremoni kelulusan secara berlebihan.
Merespons keluhan masyarakat, Aktivis sekaligus ketua Jurnalus Independen Kudus (J.I.K) Mbarsidi, SH angkat bicara.
Menurutnya, acara perpisahan sekolah tetap bisa dikonsep dengan menarik dan menyentuh hati tanpa harus membebani dompet orang tua murid.
“Boleh dibuat menarik dan berkesan, tetapi jangan sampai harus ada urunan besar dan bermewah-mewahan,” ujar Mbarsudi, SH saat dihubungi di kediamanya Kaliwungu.
Mbarsidi, SH juga mengingatkan bahwa setelah lulus SMP, orang tua murid masih harus menghadapi fase krusial yang membutuhkan biaya tidak sedikit, yaitu mendaftarkan anak ke jenjang yang lebih tinggi yaitu SMA/SMK sederajat.
Selain masalah finansial, Mbarsidi juga menyoroti dampak psikologis bagi para siswa. Acara yang terlalu glamor dikhawatirkan memicu kesenjangan sosial yang bikin siswa dari keluarga kurang mampu merasa tersisih.
“Anak-anak muda sekarang sangat sensitif dengan kondisi sosial. Jangan sampai muncul rasa minder atau tekanan sosial karena tidak bisa mengikuti gaya perpisahan yang mewah,” paparnya.
Ia juga menambahkan, Disdikpora dan pihak sekolah harus mengantisipasi potensi kerawanan lain, jangan karena acara perpusahan dan kelulusan ada yang mewah dan ada yang biasa, terjadi saling ejek diantara siswa SMP di Kudus.
Begitu juga Kabid dikdas Kabupaten Kudus, Anggun Nugraha menegaskan bahwa pihaknya selalu mewanti-wanti para kepala sekolah agar mengedepankan prinsip kesederhanaan.
Dan yang terpenting transparan dan tidak memaksa,” katanya. sekolah negeri diimbau keras untuk tidak menggelar acara pelepasan secara jor-joran.
Tak hanya soal perpisahan tersebut juga menegaskan bahwa pembagian rapor kenaikan kelas wajib bersih dari pungutan dalam bentuk apa pun, baik berupa uang tunai maupun barang.
Sementara itu, beberapa Kepala sekolah smp di kudus yang di hubungi team Media Purna Polri mengatakan kalo kegiatan itu adalah keinginan dari siswa sendiri yang sudah di sepakati bersama sama sebagai kenang kenangan selama mereka sekolah disana dan sudah ada tabungan setiap bulanya.
(NR)



