
Co Founder Sinergis Indonesia
Jakarta, – Peringatan hari buruh 1 Mei 2026 di tanah air pagi hari tadi memperlihatkan dua wajah berbeda antara panggung perayaan buruh di monas yang digelar oleh pemerintah , disisi lain kelompok massa memadati kawasan senayan tepatnya didepan Gedung DPR RI, kedua panggung ini menunjukan fenomena yang berbeda dan cara merayakannya. Publik dibuat bingung dengan adanya perbedaan kontras ini dan diminta lebih berhati-hati dalam memilah dan memastikan antara political theatrics dan political courage, yang nantinya akan berdampak kepada kaum buruh dan masyarakat kecil (wong cilik)
Sejarah memperlihatkan bahwasanya peringatan hari buruh selalu diwarnai demonstrasi dengan membawa tuntutan ketimpangan atau eksploitasi serta aturan ketidakadilan untuk para buruh, atau jauh dari kata ruang nyaman. berbeda dengan yang digelar oleh pemerintah dimonas dengan hiburan musik atau pesta rakyat. Hal inilah kemudian mengundang kebingungan publik, apakah ini bentuk kehadiran Negara terhadap kaum buruh atau malah sebaliknya untuk meredam kritik? Murray Edelman melalui karyanya berjudul The Symbolic Uses Of Politics (1964), menjelaskan bahwasannya panggung politik terkadang hanya menampilkan simbolisme tanpa membenahi substansial yang ada.
Menelisik Political Courage ditengah mayday satu hari dua panggung, sekelompok massa yang menggelar aksi demonstrasi di komplek senayan tepatnya Gedung DPR RI, membawa tuntutan ditengah kepulan asap dan orasi, mereka meminta pemerintah dan DPR RI segera menemui massa aksi dan membuat kebijakan yang pro terhadap kaum buruh dan masyarakat kecil (wong cilik).
yang menjadi pertanyaan mendasar dan ditunggu publik, mampukah pemerintah melakukan suatu kebijakan apa yang kemudian kaum buruh harapkan dengan realitas hari ini buruh masih jauh dari kata ideal, upah yang tidak sebanding, status kerja yang tidak jelas, dan lemahnya perlindungan hukum terhadap buruh , tentu semua tuntutan ini publik dan masyarakat mempunyai harapan terhadap pemimpin yang mempunyai integritas politik dan etika politik, sebagaimana yang dimaksud political courage. Hanna Arendt dalam bukunya The Human Condition mengatakan keberanian itu merupakan kualitas untuk siapapun yang ingin terlibat dalam kehidupan politik.


