
Jakarta Selatan, MP-POLRI – Sebuah perhelatan krusial bertajuk “Seminar: Vape dalam Bahaya” secara resmi diselenggarakan di kawasan Jakarta Selatan hari ini. Agenda ini memfokuskan perhatian pada dampak negatif perangkat uap elektronik yang kian marak, khususnya di kalangan santri. Melalui forum ini, para ahli berusaha membedah risiko tersembunyi di balik tren penggunaan gawai penguap tersebut yang kian meresahkan publik.
Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Komjen Pol Dr. (H.C.) Suyudi Ario Seto, S.I.K., S.H., M.Si., yang diwakilkan oleh Irjen Agus sebagai narasumber kunci dalam simposium ini. Beliau menekankan bahwa pengawasan terhadap peredaran cairan vape menjadi prioritas utama instansinya guna mencegah penyelundupan narkotika jenis baru. Jenderal bintang tiga itu menegaskan bahwa proteksi dini merupakan tameng terkuat dalam memerangi sindikat gelap yang menyasar kelompok usia produktif.
Kegiatan ini mengusung tajuk utama mengenai “Sosialisasi Bahaya Penggunaan Vape di pesantren” Pemilihan tema tersebut didasari atas komitmen kuat untuk memproteksi institusi pendidikan berbasis agama dari pengaruh buruk zat adiktif. Para penyelenggara berharap langkah preventif ini mampu membentengi moralitas serta kesehatan fisik generasi muda yang tengah menimba ilmu di berbagai lembaga tidak ketinggalan, Gus Rofi selaku pucuk pimpinan atau Ketua Umum BKN turut memberikan perspektif strategis dalam diskusi tersebut. Beliau menguraikan pentingnya sinergitas antara organisasi masyarakat dan otoritas keamanan untuk meredam laju konsumsi uap beraroma di kalangan pelajar. Menurutnya, kolaborasi lintas sektor adalah kunci utama untuk mewujudkan lingkungan pendidikan yang steril dari polusi zat kimia berbahaya.
Dari sisi religius dan kemasyarakatan, KH. Rakhmad Zailani Kiki yang menjabat sebagai Ketua RMI NU DKI Jakarta menyampaikan pandangannya yang mendalam. Beliau menegaskan bahwa menjaga kesehatan raga adalah bagian dari amanah agama yang tidak boleh diabaikan oleh para santri. Tokoh ulama ini mengimbau agar seluruh pengelola asrama memperketat disiplin serta memberikan pemahaman komprehensif mengenai kerugian jangka panjang dari gaya hidup tidak sehat ini.
Pertemuan penting ini dilaksanakan tepat pada hari Jum’at, 17 April 2026, yang bertepatan dengan momen refleksi mingguan bagi umat Muslim. Acara dimulai tepat pukul 13.00 WIB, sesaat setelah pelaksanaan ibadah salat Jum’at berjamaah berakhir. Pemilihan waktu ini dinilai sangat representatif untuk menjaring atensi maksimal dari para pemangku kepentingan di dunia pesantren yang hadir dalam undangan tersebut.
Adapun titik lokasi perhelatan dipusatkan di bilangan Jalan TB Simatupang No. 102, RT.10/RW.4, Cilandak Barat. Gedung yang terletak di jantung Kecamatan Cilandak ini menjadi saksi bisu berkumpulnya para penggerak anti-narkoba di wilayah Kota Jakarta Selatan. Fasilitas yang memadai di daerah khusus ibukota ini mendukung kelancaran jalannya pemaparan materi serta sesi tanya jawab yang berlangsung secara dinamis.
Dalam narasinya, para pembicara memaparkan data medis terkait kerusakan paru-paru dan gangguan fungsi jantung akibat paparan aerosol secara kontinu. Penjelasan ini bertujuan untuk mematahkan stigma atau mitos yang menyebutkan bahwa rokok elektrik merupakan alternatif yang sepenuhnya aman bagi kesehatan. Fakta-fakta klinis dibeberkan secara lugas untuk membangkitkan kesadaran kolektif audiens mengenai ancaman nyata yang mengintai di balik kepulan uap harum tersebut.
Antusiasme peserta terlihat jelas dari banyaknya interaksi yang terjadi selama proses sosialisasi berlangsung. Para perwakilan pesantren menunjukkan komitmen mereka untuk segera mengimplementasikan regulasi internal yang melarang penggunaan perangkat tersebut di lingkungan sekolah. Langkah nyata ini diharapkan mampu menciptakan efek domino positif bagi pesantren-pesantren lain di seluruh pelosok nusantara agar lebih mawas diri terhadap perkembangan tren yang destruktif.
Acara seminar ini diakhiri dengan kesepakatan bersama untuk memerangi penyalahgunaan zat di lingkungan pendidikan. Sinergi antara BNN, BKN, dan RMI NU DKI Jakarta diharapkan menjadi tonggak awal dari gerakan masif penyelamatan generasi emas bangsa. Harapannya, melalui edukasi yang berkelanjutan, pesantren tetap menjadi benteng pertahanan moral dan kesehatan yang kokoh bagi masa depan Indonesia.
Ag94



