
Lampung Barat, MP-POLRI – Program ketahan pangan pekon pampangan, kecamatan sekincau, kabupaten lampung barat ( Lambar), tahun 2025 diduga tidak terealisasi. Rabu, (11/02).
Menurut Narasumber yang minta indentitasnya untuk di anonimitaskan mengatakan, bahwa dana ketahanan pangan yang 20 persen dari dana desa tidak jelas rimbanya dan bahkan tidak di transfer ke rekening Bumdes pekon tersebut.
” Sepengetahuan saya transfernya dana ketahanan pangan harus ke rekening bumdes, itu jika mengacu secara aturan dan sepengetahuan saya tidak di transfer ke Bumdes kuat dugaanya tidak terealisasi. Infonya dana tersebut dialokasikan untuk peternakan pembesar ikan tapi tidak ada kejelasan nya, ” Ungkapnya,
Selain itu, untuk Kolam ikan pada bumdes tersebut menyewa sebesar 20 juta tapi pada kenyataan di lapangan tidak di sewakan. Oleh sebab itu mohon kepada teman teman, APH, Inspektorat dan media untuk bisa cross cek ke lapangan guna mengetahui kebenarannya info ini.
” Mengingat dana Bumdes pekon pampangan tahun 2025 lalu tidak main main, melainkan sangat pantastis kurang lebih 245 juta kurang lebih dari 20 persen total anggaran DD 1 milyar lebih jika dana tersebut direalisasikan ke kolam ikan itu semua maka tidak rasional dan tidak masuk akal.
Ditambah lagi harus mekanisme transfernya ke rekening Bumdes itu, berdasarkan Kepmen no 82 Tahun 2022, memper bolehkan lebih tapi tidak boleh kurang dari 20 persen Anggaran ketahan pangan. Dan Konsepnya, Memasukkan PAD yang dilandasi dengan penyertaan modal juga keuntungan terlebih lagi transparansi dengan salah satu wujud adanya plang pada lokasi kegiatan Bumdes,”Jelasnya berharap.
Sementara saat di konfirmasi pelaku usaha ketahan pangan, Warman mengatakan, kolam yang ia kelola sudah satu kali panen pada bulan 7 tahun lalu dengan jangka waktu 6 bulan setelah bibit ikan jenis nila di lepas di kolam tersebut. Adapun banyaknya ikan yang di kucurkan 10 ribu ekor ikan dengan hasil panen sebanyak 1,2 ton dengan harga jual 26000 ribu rupiah per KG.
” Jadi kalkulasinya 31. 200.000 hasil dari panen kolam tersebut, kalau saya dapet untung selama 6 bulan itu sebesar 7 juta rupiah. Dan untuk dokumentasi mulai dari penaburan bibit ikan sampai dengan panen saya jujur tidak punya baik photo maupun videonya, terlebih lagi jika untuk plang di kolam memang tidak ada dari awal dan juga tidak ada instruksi dari ketua Bumdes pak Heri maupun dari Pekon.
Untuk pengelolan kolam ikan selama tahun 2025 hanya satu kali saja, itupun hasilnya kurang maksimal dikarenakan bibit tercampur dengan ikan jenis lain yakni ikan mas maka pemelang kolam rusak, dengan lebar kolam 1 rantai kurang lebihnya, untuk total anggaran yang saya terima 22 juta rupiah sampai panen dengan estimasi pakan 2 ton dan bibit 10 ribu ekor ikan nila, ” Ucapnya.
Di lain sisi Direksi Bumdes, Heri Eko saat di konfirmasi tidak banyak bisa menjelaskan dengan dalih belum selesai laporan keuangan Bumdes tersebut. Mengingat masih di garap bendahara bersama dengan Sekdes dan Bendahara Pekon. ” Untuk dana yang masuk baru tahap pertama saja, untuk besarannya saya tidak tau karna yang tau bendahara saya. Dan keuntungan juga seperti itu saya tidak tau karna masih tahap pelaporan sampai saat ini belum selesai jadi saya belum tau, ” Elaknya.
Masih menurut, Heri kalaupun untuk Bumdes kita melalui ketahan pangan ini ada Hewani yakni Pembesar ikan nila dan nabati, sudah dua kali panen pada Tahun 2025 ini. Dengan persentase 80 persen keuntungan untuk pengelola Bumdes dan 20 persen untuk Bumdes itu sendiri.
” Nanti kalau sudah ada pelaporan saya kasih tau, karna yang mengetahui Bendahara saya. Sampai sekarang saya belum tau. Jika untuk struktur kepengurusan Bumdes semua ada tapi untuk benernya ada di kantor pekon, ” Pungkasnya.
Di tempat yang sama Sekdes Pekon pampangan, Agung mengatakan bahwa dana Bumdes sudah masuk 100 persen ke Rekening Bumdes pada Tahun 2025 lalu dengan rincian tahapan masuk 2 kali pentransferan.
” Tahap pertama masuk pada tanggal, 19 juni 60 peren dan tahap ke 2 pada 16 oktober sebesar 40 persen dengan total anggaran sebesar Rp. 248. 521.000 ribu rupiah lebih pada tahun 2025 lalu. Ditambah lagi masuk 50 juta rupiah untuk untuk weifee dan sudah kita serahkan secara Kes tanpa transfer ke PT. Izinett dan merupakan saran dari pendamping untuk tidak di transfer melainkan Tunai. Sehingga, total masuk ke rekening Bumdes pada tahun lalu Rp.298. 521.000 (Dua ratus sembilan puluh delapan juta lima ratus dua puluh satu ribu rupiah), ” Ujarnya, menjelaskan.
Masih menurut dia, Adapun untuk slip penyetoran dana tersebut belum bisa dikasih lihat karna masih Rusak dan akan segera di perbaiki. ” Jika sudah diperbaiki nanti saya kasih lihat, Slip stornya rusak karna terkena solasi jadi ada tulisannya yang tidak terbaca, ” Pungkasnya mengelak.
(Mr.Hidayat)



