​BANDUNG. MP-POLRI – Dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan ibadah dan syiar Islam di wilayah Kabupaten Bandung, Pimpinan Daerah Dewan Masjid Indonesia (PD DMI) Kabupaten Bandung menyelenggarakan kegiatan bertajuk “Standardisasi Imam dan Khatib Masjid Se-Kabupaten Bandung.”

​Kegiatan yang berlangsung di kantor DMl Jabar Sabtu Pagi (07/02/2026). Kegiatan ini bertujuan untuk menyelaraskan kompetensi para tokoh agama yang bertugas di garda terdepan menjadi Imam masjid.

Ketua DMI Kab.Bandung KH.Shohibul Ali Fadhil atau yang akrab disapa Gus Ali dalam kesempatanya menyampaikan, bahwa dengan adanya kegiatan ini diharapkan pesan-pesan keagamaan yang disampaikan melalui mimbar jumat maupun kepemimpinan dalam salat berjamaah dapat semakin berkualitas, menyejukkan, dan sesuai dengan tuntunan syariat.

Selain itu tentunya melalui kegiatan ini untuk meningkatkan kapasitas profesionalisme imam dan khatib dalam hal bacaan al-qur’an, wawasan kebangsaan, serta retorika dakwah.

” ​Melalui program ini, DMI berharap masjid-masjid di Kabupaten Bandung tidak hanya menjadi tempat ibadah ritual semata, tetapi juga menjadi pusat peradaban yang dipimpin oleh sumber daya manusia yang kompeten dan terstandar,” ungkap Gus Ali.

​Acara ini diikuti oleh antusiasme yang tinggi dari para pengurus masjid di wilayah Kabupaten Bandung dari 31 Kecamatan dengan jumlah peserta: Sebanyak 150 peserta hadir mewakili berbagai wilayah.

” Hingga saat acara berlangsung, tercatat sebanyak 258 masjid telah mendaftarkan diri dalam program ini.

​Meskipun minat pendaftar cukup tinggi, kita pihak panitia melakukan pembatasan jumlah peserta untuk menjaga efektivitas kegiatan,” ujarnya.

Gus Ali berharap, melalui sertifikasi ini para imam dan khatib dapat membawa keberkahan dan suasana sejuk bagi seluruh umat di Kabupaten Bandung, tambah Gus Ali.

Senanada dengan yang disampaikan ketua umum Pimpinan Wilayah (PW) Dewan Mesjid Indonesia ( DMI) Jawa Barat, KH.Mohammad Mansyur Syaeroji menekankan pentingnya perubahan paradigma bagi para khatib dan imam. Dakwah diharapkan tidak lagi sekadar menjadi ritual rutin untuk menggugurkan kewajiban, melainkan sarana penyampaian pesan yang nyata dan berdampak, Katanya.

Menurutnya, pelatihan ini penting karena meliputi ​Efektivitas Durasi yang nantinya mampu menyampaikan pesan yang jelas dan mendalam meskipun dalam durasi yang singkat dengan pesan yang disampaikan harus mampu membekas dan diingat oleh jemaah, setidaknya selama satu pekan hingga bertemu kembali di salat Jumat berikutnya.

​Selain aspek ritual keagamaan, menurut ketua DMI Jabar, khatib juga harus bisa mengangkat isu-isu sosial yang relevan. Untuk itu para peserta dibekali kemampuan untuk menyusun materi yang lebih variatif.

Tema-tema yang diusung kini mencakup aspek yang lebih luas, di antaranya:

​Isu lingkungan hidup.

​Kebersamaan dan nilai-nilai kebhinekaan.

​Toleransi beragama dalam kehidupan bermasyarakat.

​DMI Jawa Barat meyakini bahwa peningkatan kualitas khatib akan berbanding lurus dengan kualitas kehidupan sosial masyarakat.

“Dengan pembekalan yang tepat, diharapkan masjid dapat menjadi pusat edukasi yang solutif bagi berbagai persoalan umat,” pungkasnya.

(Robinson)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan tulis komen anda!
Masukkan nama anda disini