TANGERANG, MP-POLRI — Deru air yang meluap dan menggenangi sejumlah titik krusial di wilayah Kabupaten Tangerang kini bertransformasi menjadi parameter autentik bagi kapasitas manajerial pemerintah daerah. Di tengah kemelut hidrometeorologi tersebut, aksi responsif Bupati Tangerang, Moch. Maesyal Rasyid, yang secara luring menginspeksi titik koordinat banjir di Desa Jenggot, Kecamatan Mekar Baru, memanen gelombang pengakuan positif. Salah satu dukungan moril muncul dari Sekretaris Umum Forum Reporter Jurnalis Republik Indonesia (FRJRI), Arul, yang menganggap mobilitas tersebut sebagai bentuk kehadiran negara secara nyata.

​Arul menguraikan bahwa eksistensi nakhoda utama Kabupaten Tangerang di barisan warga yang terdampak bukan sekadar menunaikan kewajiban birokratis yang bersifat prosedural. Lebih dari itu, kehadirannya merupakan representasi dari filosofi kepemimpinan yang berakar pada empati mendalam serta keberpihakan mutlak terhadap kemaslahatan publik pada hari Rabu (4/2/26). Kehadiran fisik seorang pemimpin di episentrum bencana diyakini mampu memompa optimisme kolektif bagi para penyintas yang tengah menghadapi kesulitan material maupun mental.

​“Kami melayangkan penghormatan setinggi-tingginya kepada Bupati Tangerang atas dedikasinya. Dalam fase darurat yang dipicu oleh luapan banjir, beliau hadir secara langsung demi menjamin bahwa protap penanggulangan terakselerasi dengan presisi, terorganisasi secara integratif, serta tetap memprioritaskan pemenuhan kebutuhan primer warga. Ini adalah potret kepemimpinan yang berjiwa humanis sekaligus memiliki jangkauan pandang yang visioner,” tegas Arul dalam keterangan resminya.

​Dalam perspektif Arul, manuver yang dijalankan Pemerintah Kabupaten Tangerang sangatlah taktis karena mensinergikan strategi jangka pendek dengan visi jangka panjang. Upaya kuratif seperti normalisasi drainase dan pembersihan sedimen di area kolong jembatan dilakukan secara simultan dengan perencanaan preventif melalui studi kelayakan teknis terkait peninggian infrastruktur jembatan. Pendekatan yang komprehensif ini dinilai sebagai langkah solutif yang berorientasi pada keberlanjutan, bukan sekadar pemadaman api sesaat yang bersifat reaktif.

​Lebih jauh lagi, distribusi logistik berupa paket pangan bagi penduduk yang terdampak dipandang sebagai representasi konkret dari intervensi pemerintah dalam merespons urgensi kebutuhan mendasar konstituennya. Arul menekankan bahwa manajemen bencana yang mumpuni tidak boleh terjebak dalam pola penanganan yang bersifat temporer. Dibutuhkan kalkulasi yang matang serta kebijakan mitigasi yang bersifat struktural agar siklus bencana serupa dapat diminimalisir atau bahkan dieliminasi di masa mendatang, menunjukkan kematangan Pemerintah Kabupaten Tangerang dalam aspek ketahanan daerah.

​Sebagai elemen krusial dari pilar keempat demokrasi, Arul memastikan bahwa FRJRI akan tetap konsisten mengawal dinamika sosial melalui fungsi pengawasan yang objektif dan konstruktif. Di sisi lain, organisasi jurnalis tersebut berkomitmen untuk menjadi mitra strategis dalam menyebarluaskan kebijakan otoritas yang secara nyata berorientasi pada aspek kemanusiaan dan proteksi keselamatan masyarakat. Sinergi ini dianggap vital agar arus informasi dari pemerintah dan aspirasi dari akar rumput dapat bertemu dalam satu koridor pembangunan yang selaras.

​Menutup pernyataannya, Arul menyampaikan harapan besar agar kolaborasi trilateral antara birokrasi, masyarakat sipil, dan institusi media dapat terus diakselerasi demi kemajuan daerah. Semangat kegotongroyongan dan kebersamaan diharapkan menjadi fondasi utama bagi Kabupaten Tangerang untuk bertransformasi menjadi wilayah yang kian resilien (tangguh) terhadap berbagai tantangan eksternal. Dengan komitmen kepemimpinan yang hadir di tengah krisis, optimisme akan lahirnya daerah yang lebih siap dan siaga bencana kian menguat di benak publik.

Ag94

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan tulis komen anda!
Masukkan nama anda disini