
Ciamis, Jawa Barat, MP-POLRI – Di tengah pesatnya perkembangan rokok elektrik serta berbagai kebijakan pembatasan produk tembakau, penjual tembakau tradisional di Kabupaten Ciamis masih menunjukkan eksistensinya. Salah satunya adalah para pedagang tembakau yang berjualan di kawasan pasar tradisional dan pinggir jalan utama Purwadadi, yang hingga kini tetap setia melayani pelanggan setianya.
Beragam jenis tembakau ditawarkan kepada masyarakat, mulai dari tembakau rajangan halus, tembakau linting manual, hingga tembakau campuran (blend) dengan karakter aroma dan rasa yang khas.
Tembakau tersebut didatangkan dari sejumlah daerah penghasil tembakau ternama di Indonesia seperti Temanggung, Madura, Lombok, hingga beberapa wilayah di Jawa Barat.
Setiap jenis tembakau memiliki ciri tersendiri. Tembakau Temanggung dikenal dengan rasa kuat dan aroma tajam, tembakau Madura cenderung ringan dan harum, sementara tembakau Lombok memiliki cita rasa khas yang cukup diminati oleh perokok linting berpengalaman.
“Pembeli biasanya sudah tahu mau beli jenis apa. Ada yang minta ringan, ada juga yang cari tembakau kuat. Kami menyesuaikan kebutuhan mereka,” ujar Asep ben (35), salah satu penjual tembakau di kawasan Pasar Purwadadi, Jum’at (23/01/2026) Pukul 9:30 WIB.
Menurut Asep beni, meskipun tren merokok mulai bergeser, penjualan tembakau tradisional masih terbilang stabil. Pelanggan setianya berasal dari berbagai kalangan, mulai dari nelayan, petani, hingga wisatawan yang sengaja membeli tembakau sebagai oleh-oleh khas.
“Kalau akhir pekan atau musim liburan, pembeli dari luar daerah cukup banyak. Mereka penasaran dengan tembakau lokal,” katanya.
Selain menjual tembakau murni, sebagian pedagang juga melayani permintaan racikan tembakau campuran. Racikan tersebut dibuat berdasarkan selera pembeli, baik dari segi aroma, tingkat kekuatan, maupun kelembutan asap.
Dari segi harga, tembakau dijual dengan kisaran yang bervariasi. Untuk tembakau lokal kualitas standar, harga berkisar antara Rp20 ribu hingga Rp40 ribu per ons. Sementara tembakau kualitas premium dengan aroma dan rasa tertentu bisa mencapai Rp70 ribu hingga Rp100 ribu per ons.
Namun demikian, para penjual tembakau di Purwadadi juga menghadapi berbagai tantangan. Perubahan cuaca yang tidak menentu memengaruhi kualitas tembakau dari petani, sementara kenaikan harga bahan baku dan biaya distribusi turut berdampak pada margin keuntungan pedagang kecil.
Selain itu, kebijakan cukai dan kampanye pengendalian rokok juga turut memengaruhi minat beli masyarakat. Meski begitu, para pedagang memilih tetap bertahan dengan menjaga kualitas produk dan kepercayaan pelanggan.
“Kunci kami tetap di kualitas dan kejujuran. Kalau pembeli puas, mereka pasti balik lagi,” ujar Asep beni.
Keberadaan penjual berbagai jenis tembakau ini dinilai tidak hanya berperan dalam menggerakkan roda ekonomi lokal, tetapi juga menjaga tradisi pertembakauan yang telah lama menjadi bagian dari budaya masyarakat. Di ciamis, tembakau bukan sekadar komoditas dagang, melainkan juga bagian dari kebiasaan dan identitas sebagian warga.
Di tengah berbagai tantangan, para penjual tembakau tradisional di ciamis tetap optimistis. Dengan mempertahankan kualitas, pelayanan yang ramah, serta menyesuaikan diri dengan perubahan zaman, mereka berharap usaha tembakau lokal masih memiliki masa depan yang berkelanjutan terangnya.
(Jurnalis.Andri permana)



