Kota Bandung, MP-POLRI – Bencana hidrometeorologi yang melanda Sumatera baru-baru ini bukan sekadar statistik kerusakan, melainkan sebuah alarm keras bagi sistem mitigasi nasional. Dalam sesi pembekalan relawan FK-KBPA-BR, narasumber ahli kebencanaan, Kang Bayu Tresna, membedah fenomena ini sebagai sebuah “anomali” yang menuntut evaluasi total—mulai dari perilaku ekologis hingga rekayasa engineering di lapangan.

Berbeda dengan siklus alami biasa, bencana di Sumatera kali ini dipicu secara signifikan oleh aktivitas deforestasi. Hilangnya vegetasi penyangga menyebabkan air hujan tidak lagi meresap, melainkan meluncur deras mengikuti gravitasi topografi. Tanpa hambatan, air berubah menjadi proyektil mematikan yang membawa material tanah, lumpur, hingga gelondongan kayu besar menghantam permukiman.

Kang Bayu menyoroti sebuah ironi besar: Di tahun 2025, ketika teknologi dan sumber daya manusia seharusnya berada di puncak kemajuan, respons terhadap pengungsi justru terasa lambat dan sulit. Fenomena ini menciptakan collective freeze (keterkejutan kolektif)—sebuah pertanyaan besar bagi bangsa ini tentang mengapa akses kemanusiaan masih menjadi kendala di era modern.

Pecinta Alam: Penjaga Nyala Empati
Di tengah kelambatan tersebut, pergerakan relawan dari jejaring FK-KBPA-BR dan komunitas pecinta alam menjadi secercah harapan. Menurut Kang Bayu, kehadiran pecinta alam di lokasi bencana bukan sekadar bantuan fisik, melainkan pembuktian ideologis.
“Pecinta alam adalah kelompok yang mampu ‘ngeblend’ (menyatu) melintasi sekat latar belakang dan organisasi. Nilai Bhinneka Tunggal Ika hidup di sini. Melalui pendidikan daya jelajah dan daya juang, mereka terbentuk menjadi manusia dengan empati tinggi yang selalu khawatir akan keselamatan sesamanya.

Ketidakhadiran pecinta alam dalam situasi krisis justru akan menihilkan makna eksistensi organisasi tersebut. Berkumpul dan bergerak untuk kemanusiaan adalah manifestasi nyata dari pendidikan “alam” yang selama ini ditempuh.Tantangan lapangan dari logistik hingga “Membangun Peradaban” dalam operasi tanggap darurat, tantangan di lapangan jauh melampaui sekadar distribusi mi instan. Masalah krusial yang ditemukan meliputi sulitnya dropping logistik ke wilayah terisolir, ketersediaan energi darurat (micro/pyko hydro), hingga kebutuhan medis dasar.Namun, poin paling mendasar yang ditekankan adalah konsep relokasi yang mana relokasi pascabencana tidak boleh dimaknai hanya sebagai pemindahan penduduk secara fisik. “Relokasi adalah upaya membangun peradaban baru,” tegas Kang Bayu.

Peradaban ini harus dibangun di atas fondasi keselamatan, keamanan, dan keberlanjutan, agar masyarakat tidak kembali jatuh ke lubang bencana yang sama.Salah satu sorotan tajam dalam pembekalan ini adalah kritik engineering mengenai ketertinggalan engineering kebencanaan nasional. Hingga saat ini, penanganan pengungsi masih sangat bergantung pada tenda pleton konvensional tanpa adaptasi desain yang kontekstual.Kang Bayu mendorong perlunya inovasi rekayasa (engineering) yang lahir dari akumulasi pengalaman bencana, antara lain:

Pertama Desain Hunian Darurat yaitu menciptakan tenda atau selter yang adaptif terhadap kondisi lokal, bukan sekadar tenda seragam.
Kedua Sistem Medis & Air Bersih yaitu Instalasi mobile yang siap pasang untuk kebutuhan air dan kesehatan darurat.

Arsitektur kebencanaan harus mampu menghasilkan sistem yang siap pakai, bukan sekadar respons reaktif yang berulang tanpa perbaikan.
Menutup pembekalan, ditegaskan bahwa “keamanan tidak pernah libur.” Potensi SAR dan penanggulangan bencana sejatinya adalah tanggung jawab negara, namun partisipasi masyarakat sipil—khususnya pecinta alam—berfungsi sebagai penguat utama sistem tersebut.

Langkah ke depan harus simultan: merespons Sumatera dengan cepat, sembari memperkuat kesiapsiagaan di wilayah lain yang rawan, khususnya Jawa Barat. Hal ini perlu dituangkan dalam naskah akademis sebagai landasan kebijakan, serta edukasi publik yang masif.
Bencana Sumatera adalah cermin. Apakah kita akan terus terkejut, atau mulai berbenah dengan sistem yang lebih cerdas dan manusiawi?

(Regicy)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan tulis komen anda!
Masukkan nama anda disini