Kab. Tasikmalaya kampung, muhara Dusun muharara, MP–POLRI

– Persoalan pengolahan sampah kembali menjadi sorotan publik. Di Desa,Tanjung mekar muncul dugaan adanya pembiaran terhadap penumpukan sampah yang kian menggunung di tempat penampungan sementara (TPS). Kondisi ini tidak hanya meresahkan warga, tetapi juga menimbulkan potensi pencemaran lingkungan karena sebagian sampah terbawa aliran air ke sungai kecil yang melintas .

Sejak beberapa bulan terakhir, warga mengeluhkan tumpukan sampah yang tidak terangkut secara teratur. Dalam pantauan lapangan, sampah rumah tangga seperti plastik, sisa makanan, dan limbah lain terlihat menumpuk hingga berhari-hari. Pada saat hujan deras, air mengalir membawa sebagian sampah ke parit, lalu masuk ke sungai. Kondisi ini memicu bau tidak sedap, memperbesar risiko banjir, dan menimbulkan kekhawatiran soal kesehatan warga,”Rabu 1/10/2025 jam 2 wib.

Salah seorang warga, yang enggan di sebutkan namanya, mengungkapkan kekhawatirannya. “Kalau musim hujan, sampah sungai cideres terbawa ke selokan. Air jadi kotor, bahkan sering mampet. Kami khawatir penyakit bisa datang, apalagi banyak anak kecil di sini,” ujarnya.

Warga lain menambahkan bahwa persoalan ini bukan baru kali ini terjadi. Sudah sejak lama pengelolaan sampah dinilai tidak maksimal, namun belum ada perbaikan .

Kepala Desa Ade lukmanul Hakim Amd, menanggapi dugaan pembiaran tersebut dengan menegaskan bahwa pihaknya tidak tinggal diam. Ia mengakui ada persoalan dalam sistem pengelolaan, terutama keterbatasan sarana dan biaya.

“Kami sudah koordinasi dengan pengelola sampah. Kendala utamanya adalah armada pengangkut yang hanya satu unit Roda, sementara jumlah sampah terus meningkat. Anggaran desa juga terbatas. Meski begitu, kami sedang mencari solusi, termasuk kerja sama dengan pihak swasta,” jelasnya.

Kades menambahkan, pihak desa akan melakukan evaluasi menyeluruh terkait mekanisme pengumpulan sampah, penambahan titik TPS, serta rencana pelibatan masyarakat dalam pengelolaan berbasis lingkungan.

Dari pihak pengelola masyarakat yang ditunjuk desa, permasalahan teknis memang diakui menjadi faktor utama. Menurut salah satu pengelola, sampah yang di dampingi punduh Acep,” menurut ia sampah warga tidak bisa diangkut setiap hari karena keterbatasan Anggaran dan tenaga, lagi pula masyarakatnya juga ada yang bayar iuran dan ada yang tidak saya tidak di gajih pak ungkapnya”.

“Sampah dari beberapa dusun harus dilayani bahkan ada yang buang dari sampah dari luar katanya,” Kadang kalau hujan deras, jalan becek. Akhirnya jadwal molor, dan sampah menumpuk. Kami berharap ada tambahan armada dan dukungan dari desa maupun pemerintah kabupaten,”

Ia juga menyoroti pentingnya menghidupkan kembali semangat gotong royong di tingkat desa. Menurutnya, desa bisa mencontoh konsep bank sampah atau pengolahan sederhana berbasis masyarakat. Dengan demikian, volume sampah yang masuk ke TPS dapat ditekan.

“Kalau warga punya kesadaran, sampah organik bisa dijadikan kompos, sampah plastik bisa dikumpulkan untuk dijual. Jadi bukan hanya membersihkan lingkungan, tapi juga memberi nilai ekonomi,”

Masyarakat berharap pemerintah desa segera mengambil langkah cepat agar persoalan tidak berlarut-larut. Selain dampak kesehatan, warga juga khawatir persoalan ini akan mencoreng wajah desa yang sedang gencar membangun sektor lingkungan dan pariwisata.

Pemerintah desa sendiri berjanji akan segera melakukan perbaikan, termasuk menambah titik penampungan, memperbaiki sistem pengangkutan, serta menggagas program edukasi tentang pemilahan sampah sejak rumah tangga.

“Kami tidak ingin masalah ini terus berulang. Kami akan undang warga, tokoh masyarakat, dan pihak terkait untuk duduk bersama mencari solusi terbaik,” pungkas Kepala Desa.

Dengan situasi ini, jelas bahwa persoalan sampah bukan sekadar masalah teknis, melainkan juga menyangkut kesadaran kolektif. Jika dibiarkan, dampaknya bukan hanya pencemaran, tetapi juga bisa menjadi sumber bencana.

Jurnalis.sep Andri zipo

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan tulis komen anda!
Masukkan nama anda disini