Kota Bandung, MP-POLRI
– Dunia pendakian gunung di Indonesia sedang mengalami transformasi besar. Apa yang dulu dianggap sebagai aktivitas niche para pencinta alam, kini telah berubah menjadi tren massal bahkan kebutuhan bagi banyak orang, terutama generasi muda. Namun, di balik indahnya foto-foto Instagram dan video-video TikTok yang memukau, tersembunyi kisah-kisah pilu yang sering kali tak terlihat: pendaki yang hilang, cedera, atau bahkan kehilangan nyawa. Bisa dikatakan tren hobi yang memadukan antara kegiatan eksplorasi keindahan yang menyisakan bahaya yang mungkin terabaikan.
Mang Diat, anggota pencinta alam berpengalaman dengan lebih dari 20 tahun menjelajahi gunung-gunung di Indonesia, mengamati fenomena ini dengan prihatin. “Media sosial sudah berhasil memotivasi & menghipnotis orang dari berbagai kalangan dan generasi untuk mendaki gunung. Gunung memang banyak menyimpan beribu keindahannya, tapi di balik itu, tersimpan bahaya-bahaya yang menghantuinya dan mereka tidak mengetahuinya,” ujarnya.
Bersama Bung Ato, sesama anggota pencinta alam yang juga prihatin dengan maraknya kasus kecelakaan pendakian, mereka memutuskan untuk mengambil tindakan. Keduanya menggagas sebuah program pelatihan non-profit yang bertujuan mengubah mindset pendaki pemula: dari menganggap pendakian sebagai aktivitas “biasa” menjadi kegiatan serius yang membutuhkan persiapan matang.
Ketika pendaftaran dibuka pada 23 Juli, tim hanya menargetkan 30 peserta, jumlah yang dianggap ideal untuk memastikan pelatihan berjalan efektif. Namun, respons masyarakat ternyata luar biasa. Dalam waktu singkat, pendaftar membludak hingga mencapai 60 orang, dua kali lipat dari target awal. Melihat animo yang tinggi ini, panitia segera bergerak mencari tambahan instruktur dan relawan untuk memastikan semua peserta mendapat perhatian yang memadai. “Ini merupakan Antusiasme yang Melampaui Ekspektasi “, ujar mang Diat.
“Kami tidak menyangka responsnya sebesar ini,” kata salah seorang panitia. “Ini menunjukkan bahwa kesadaran akan pentingnya edukasi pendakian mulai tumbuh.”
Program ini dirancang ke dalam Empat Pilar Utama Pelatihan untuk memberikan bekal praktis yang langsung aplikatif di lapangan, yaitu :
1. Manajemen Perlengkapan (Khusus untuk Generasi Tiktoker)
– Memilih gear yang tepat, bukan sekadar yang instagramable.
– Teknik packing efisien berdasarkan durasi dan kondisi gunung.
– Menghilangkan kesalahan fatal yang sering dilakukan pendaki pemula, seperti menggunakan sepatu tidak sesuai medan.
2. Mitigasi Risiko: Mengenal Bahaya Objektif & Subjektif
– Memahami ancaman alam (cuaca ekstrem, jalur berbahaya)
– Meminimalisir kesalahan manusia (keputusan buruk, kelelahan).
– Studi kasus kecelakaan pendakian dan pelajaran yang bisa diambil.
3. Pengenalan Simbol Peta Konvensional & Navigasi Kompas
– Membaca peta topografi dan mengenali simbol-simbol kritis.
– Teknik dasar orientasi medan dengan kompas.
4. Navigasi Digital dengan Avenza Maps
– Memanfaatkan teknologi untuk pendakian yang lebih aman.
– Tips menggunakan peta digital ketika sinyal terbatas.
Pelatihan ini bukan sekadar seremonial. Bagi Mang Diat dan Bung Ato, ini adalah sebuah langkah awal untuk perubahan yang lebih besar dan upaya nyata untuk menekan angka kecelakaan di gunung dengan membangun budaya pendakian yang lebih bertanggung jawab.
“Hari ini, kami akan mengadakan pertemuan persiapan terakhir untuk memastikan semuanya berjalan lancar,” ungkap salah satu panitia. “Kami berharap ini bisa menjadi model untuk komunitas lain di seluruh Indonesia.”
Di tengah euforia pendakian yang kian masif, inisiatif seperti ini menjadi penyeimbang yang vital, guna mengingatkan kita bahwa gunung bukan sekadar destinasi, tapi juga ruang yang menuntut penghormatan dan kesiapan matang.
Jika sukses, program ini akan diperluas ke daerah-daerah lain, menciptakan jaringan pendaki yang tidak hanya berani, tetapi juga cerdas dan siap menghadapi tantangan alam.
(Regicy)



