MPP Kota Bandung — Negara kepulauan terbesar di dunia adalah negara kita yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Republik Indonesia memiliki luas wilayah sebesar 1,904,569 km2 dengan jumlah pulau sebanyak 17.508 pulau. Dengan luasan tersebut, tentunya Indonesia mempunyai potensi ekonomi yang besar, dimana dasar perekonomian Indonesia yang ditetapkan di dalam UUD 1945 Pasal 33 berlandaskan kepada azas kekeluargaan.
Namun di usia kemerdekaan yang telah berusia 74 tahun, azas kekeluargaan yang menjadi dasar-dasar perekonomian Indonesia ini belum merata dipahami oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Hal ini adalah ironi yang disebabkan karena perekonomian nasional berkembang ke arah yang berbeda dari yang dicita-citakan para pendiri negara ini. Masyarakat dewasa ini cenderung memahami perekonomian dari kacamata kapitalisme, dan tidak memahami ide perekonomian menurut asas kekeluargaan. Hal ini menjadi keprihatinan salah satu organisasi sosial di Indonesia khususnya Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Barat (PWA Jabar).
Sekretaris 1 Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Barat yang juga Ketua Koperasi Sekunder Mar’atush Shalihat Nikmah Zaita K. ST., dalam keterangan persnya menyatakan, ”Indonesia harus mewujudkan cita-cita para pendiri bangsa ini, jangan sampai semakin bertambahnya usia bangsa ini, cita-cita tersebut semakin tergerus dan malah hilang sama sekali. Kita khawatir kalau generasi penerus kita sudah tidak mengerti lagi tentang ekonomi berazaskan kekeluargaan”.
“Tantangan terbesar kita adalah mengubah pola pikir masyarakat Indonesia saat ini yang berorientasi pada kapitalis minded”, imbuh Nikmah.
Visi yang diusung oleh PWA Jabar sejalan dengan visi MyUKM. Oleh karena itu sejak bulan Desember 2019, PWA Jabar melalui Koperasi Sekunder Mara’atush shalihat dan MyUKM telah menandatangani perjanjian menjalin kerjasama mengembangkan skema sistem koperasi (cooperation system scheme) dengan menggunakan aplikasi platform marketplace guna memberdayakan pemahaman azas kekeluargaan dapat terwujud di masyarakat Indonesia.
CEO dan founder MyUKM, Aldi R Pramanda konsisten mengembangkan aplikasi MyUKM. Menurutnya, produk UMKM tanah air harus bisa bersaing dengan produk-produk luar negeri, Dalam perkembangannya MyUKM akan mengembangkan fitur-fitur MyInvest,yaitu suatu program pembiayaan crowdfunding bagi para pelaku usaha UMKM, serta didalamnya terdapat fitur Financial technology, dan jual beli produk seratus persen lokal.
Ketika ditanya tentang kerjasama PWA dengan MyUKM, Nikmah mengatakan bahwa MyUKM menjadi harapan persatuan ekonomi masyarakat Indonesia yang majemuk berdasarkan azas kekeluargaan dilandasi pada kebajikan, toleransi, kebersamaan, keunggulan yang mencerminkan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia”, pungkasnya. (Wells)



