
Lamandau,MP-POLRI – Kemarau panjang yang melanda wilayah Kecamatan Menthobi Raya, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, menyebabkan ketersediaan air bersih bagi masyarakat semakin mengkhawatirkan.
Sejumlah sumber air yang selama ini menjadi andalan warga, seperti sungai, sendang, sumur gali, dan embung, mulai banyak yang mengering. Sebagian lainnya mengalami penurunan debit air secara signifikan.
Kondisi tersebut telah berlangsung kurang lebih dua bulan dan saat ini semakin dirasakan masyarakat. Bahkan, sebagian warga terpaksa membeli air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan harga mencapai Rp150 ribu hingga Rp300 ribu per toren.
Camat Menthobi Raya, Syahruni, mengatakan Pemerintah Kecamatan Menthobi Raya, sesuai arahan Bupati Lamandau, terus bersinergi dengan dunia usaha, khususnya perusahaan perkebunan besar swasta yang berada di wilayah Kecamatan Menthobi Raya.
Sejumlah perusahaan yang dilibatkan dalam upaya membantu masyarakat menghadapi dampak kemarau panjang tersebut, yakni PT Karya Teknik Agri (KTA), PT Korintiga Hutani (KTH), dan PT Tanjung Sawit Abadi (TSA).
Menurut Syahruni, bentuk sinergi tersebut dilakukan melalui program distribusi air bersih ke desa-desa se-Kecamatan Menthobi Raya sesuai dengan wilayah desa binaan masing-masing perusahaan.
Pembagian wilayah distribusi dilakukan berdasarkan status desa binaan, desa yang bermitra, maupun desa yang berdekatan dengan perusahaan.
PT KTA menangani distribusi air bersih untuk enam desa, yakni Desa Bukit Makmur, Bukit Raya, Modang Mas, Mukti Manunggal, Sumber Jaya, dan Bukit Harum.
Sementara PT KTH menangani Desa Topalan, Batu Ampar, dan Lubuk Hiju. Sedangkan PT TSA menangani Desa Melata dan Nanuah.
Syahruni menjelaskan, program tersebut sesuai arahan Bupati Lamandau diharapkan dapat dilaksanakan hingga musim kemarau berakhir atau sampai wilayah tersebut memasuki musim hujan.
Adapun volume air yang didistribusikan rata-rata mencapai dua tangki per desa setiap hari.
Hingga saat ini, PT KTA telah melaksanakan program distribusi air bersih sejak 29 September 2026 dan terus dilakukan secara berkelanjutan setiap tiga hari. Dalam pelaksanaannya, setiap hari distribusi dilakukan ke dua desa dengan masing-masing dua tangki air.
Sementara itu, PT KTH juga telah melakukan distribusi air bersih sejak 3 September 2026. Sedangkan PT TSA, berdasarkan informasi dari pihak perusahaan, masih dalam tahap persiapan untuk melaksanakan program tersebut.
Syahruni berharap sinergi dan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dapat terus terjalin dengan baik, bahkan semakin ditingkatkan.
Menurutnya, keterhubungan tiga pilar pembangunan, yakni pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat, sangat penting agar upaya pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat dapat berjalan dengan baik.
Untuk jangka panjang, Syahruni berharap pemerintah desa dapat lebih fokus dan mandiri dalam pelayanan air bersih bagi masyarakat.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah pembangunan sumur bor yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) maupun Karang Taruna.
Selain itu, pemerintah desa diharapkan tetap bersinergi dengan perusahaan terdekat melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR, khususnya dalam pengadaan sumur bor secara bertahap dengan lokasi yang ditentukan oleh masing-masing desa.
(Sahwandi)



