PANAS TAPI GUYUB, PERINGATAN HPN 2023 DI POSKO #SAVETIM
Komunitas Sastra Se-Jabodetabek Sepakat Menyampaikan Petisi Kepada Dewan Kesenian Jakarta.
“Saya bersedih melihat situasi ini. Saya bersedih! Kita punya gedung TIM yang begitu hebat, ya. Tapi kena hujan tadi, kita malah terpaksa mlipir. Kayak gembel saja kita ini. Dan yang lebih sedih lagi, saya tak bisa ikut berjuang bersama kalian yang muda-muda. Saya sudah terlalu tua. Lelah saya. Sebab, dalam pikiran saya, makan sehari-hari saja sudah susah betul! Jadi saya, dua kali sedih. Sedih melihat diri sendiri. Juga sedih melihat keadaan ini. Lucu sekali! Gedungnya megah tapi tidak bisa dipakai oleh seniman. Alangkah menyedihkan. Tetapi apakah kita memikirkan itu?” Demikian petikan Amanah Kebudayaan yang disampaikan oleh penyair Sutardji Calzoum Bachri pada perhelatan Perayaan Hari Puisi Nasional, Sabtu (28/4) yang dibuka oleh Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Iwan Henry Wardhana, dan berlangsung meriah di Posko #saveTIM, di kawasan Pusat Kesenian Jakarta – Taman Ismail Marzuki. “Ini adalah kepedulian para seniman, aspirasi yang baik, untuk membangun ekosistem yang lebih baik pula,” ujar Iwan Henry Wardhana.
Hampir setengah jam, penyair nasional penerima Penghargaan SEA Write Award dari Raja Thailand, yang kini berusia 81 tahun, dengan bersemangat menguraikan peta dan suasana perpuisian Indonesia sejak kurun Pujangga Baru, periode Angkatan 45, Angkatan 66, hingga zaman Rendra, Wiji Thukul, dan sekarang. Ia mengingatkan adanya dua arus besar pemikiran, barat dan timur, dengan tokoh-tokohnya: Sutan Takdir Alisyahbana, H.B. Jassin, Sanusi Pane, Muhammad Yamin. Hingga periode Rendra, Arifin C. Noer, dkk. yang menggali kembali seni tradisi. Menutup amanahnya, dengan suara meninggi dan bergetar, Sutardji menyampaikan keprihatinan berkenaan dengan kondisi Taman Ismail Marzuki yang tidak lagi bisa dipergunakan oleh para seniman dengan nyaman dan leluasa. Ia berharap para seniman tidak berdiam diri.
Ia berpesan, agar para penyair senantiasa meningkatkan nilai dan makna sebagai manusia. Jangan hanya mengulang-ulang. Karena yang mengulang-ulang sepanjang hidupnya adalah makhluk hewan. “Jadi, kalau kau bilang manusia ini lemah, karena berasal dari tanah, ya, jangan kau berhenti hanya menjadi tanah. Tapi dari tanah itu, jadilah sesuatu yang mulia. Kau bisa jadi batu mulia. Logam mulia. Jadikan jiwamu mulia. Kata-katamu jadi mulia. Tapi, kemuliaan itu hanya bisa tercapai, kalau kau letakkan dirimu pada kemuliaan itu. Ada keterhubungan dengan kemuliaan, dengan zat yang mulia. Itulah yang kita pelajari dari tasawuf.”
Acara dengan tajuk “Panjang Umur Puisi Indonesia” yang digelar oleh FSP-TIM kemarin malam, selain dihadiri budayawan Taufik Rahzen, Iwan Burnani (aktor senior Bengkel Teater Rendra), Effendi Saman, SH (kuasa hukum FSP-TIM), dan beberapa tokoh teater, diramaikan dengan kehadiran para penyair dari sejumlah komunitas sastra yang bergiat di Jabodetabek, seperti Dapur Sastra Jakarta, Taman Inspirasi Sastra Indonesia, Sastra Reboan, Bengkel Deklamasi, Ruang Puisi Kita, Jagat Sastra Milenial, Komunitas Sastra Semesta, Forum Seniman Indonesia, Komunitas Menteng Jakarta, Komunitas Planet Senen, Penyair Seksih, Teater Jalanan Nusantara, Koloni Seniman Ngopi Semeja/Kesengsem-Depok, Sastra Senja, Geng Sendal Jepit, Komunitas Indonesia Kreatif/KEPIK, Kampung Seni Jakarta, FSP-TIM, dan beberapa lainnya.
Di depan wakil-wakil komunitas sastra itu, Tatan Daniel, aktivis FSP-TIM yang juga peserta Musyawarah Kesenian Jakarta 2022, menyempatkan mengenalkan empat orang kandidat anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta periode 2023-2026, yang direkomendasikan oleh Musyawarah Kesenian Jakarta. Ia mengingatkan, keempat kandidat yang aktif bergat di kalangan akar rumput itu; yaitu Sihar Ramses Simatupang, Exan Zen, Imam Maarif, dan Nuyang Jaimee, agar dipertimbangkan serius oleh Akademi Jakarta untuk mewarnai DKJ baru ke depan, yang siap melakukan penyegaran dan perubahan dalam kebijakan pengembangan sastra, yang selama ini sangat elitis dan tidak menyentuh ke komunitas sastra yang ada di Jabodetabek, bahkan nasional.
Mujib Hermani, Ketua Umum Federasi Pekerja Seni Indonesia (FPSI) menyebutkan, “Peringatan Hari Puisi Nasional ini sebenarnya momentum. Ada kesadaran kawan-kawan dari komunitas sastra untuk berhimpun. Soalnya, ada masalah kurangnya tempat-tempat mereka untuk berekspresi. TIM sekarang sudah dikuasai PT Jakpro. Gedung kesenian di TIM sudah dipatok dengan tarif komersial yang tidak maauk akal. Saya terharu atas sambutan dari teman-teman komunitas yang anthusias untuk menghadiri acara ini. Dan juga ikut menandatangani Petisi ke DKJ. Ke depannya, ada rencana tadi bersama-sama pimpinan komunitas, kita akan bikin kelanjutan acara yang lebih besar, yaitu temu penyair se-Jabodetabek.” Sementara itu, David Karo-karo, koordinator FSP-TIM menegaskan, “Seniman harus terus berkarya. Persoalannya memang, Dewan Kesenian Jakarta sekarang sudah tidak berfungsi sebagai perwakilan seniman. TIM juga sudah tidak bisa dimasuki oleh seniman. Maka, kami berbuat, menyelenggarakan berbagai kegiatan, sebagai tanggung jawab bersama kami, di tempat ini. Seadanya, tapi bebas dan bermartabat. Dewan Kesenian Jakarta sudah tak bisa diharapkan lagi. Sudah tidak punya nilai lagi. Apalagi mereka telah membiarkan nasib TIM jadi terpuruk, terutama selama tiga tahun terakhir ini. Petisi yang disampaikan tadi adalah bentuk peringatan kami, para seniman, yang bergiat disastra, teater, musik, tari, senirupa, dan film se-Jakarta raya!”
Menyikapi secara kritis sejumlah persoalan yang belakangan mengemuka secara luas di ranah publik, dan dirasakan oleh kalangan seniman berkembangnya carut-marut persoalan kesenian yang mengancam ekosistem kesenian di Jakarta, yang sangat mengganggu jalannya kegiatan kreatif dalam proses penciptaan seni, serta tidak berjalan fungsi dan kebermanfaatan Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki, maka disela acara perayaan Hari Puisi kemarin, dengan diinisiasi oleh Forum Seniman Peduli Taman Ismail Marzuki (FSP-TIM), mereka menyampaikan “Petisi Cikini Raya 73” kepada Dewan Kesenian Jakarta. Petisi dengan sembilan butir tuntutan adalah pernyataan keprihatinan atas sikap dan kebijakan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) yang abai terhadap kewajibannya memecahkan berbagai persoalan krusial yang dihadapi oleh para seniman, dan juga PKJ-TIM, yang sebagian besar kawasannya kini sudah dikuasai oleh PT Jakarta Propertindo. “Para seniman menilai Dewan Kesenian Jakarta tidak sungguh-sungguh berpikir dan bekerja, menjalankan fungsinya sebagai perwakilan kepentingan seniman. Begitu juga dalam menjaga ruang-ruang ekspresi kesenian di TIM, dan di lima wilayah Jakarta, termasuk Gelanggang Remaja!” tegas Nuyang Jaimee, salah seorang penandatangan petisi dari FSP-TIM, yang juga bertugas sebagai pemandu acara HPN.
Petisi yang ditandatangani oleh seluruh pegiat sastra yang hadir, menuntut Dewan Kesenian Jakarta agar tidak melakukan pembiaran terhadap penyimpangan proses dan hasil revitalisasi fisik dan non fisik Taman Ismail Marzuki yang dilakukan oleh PT Jakarta Propertindo selama ini, menyangkut permasalahan teknis dan non-teknis, dan juga adanya malpraktik perencanaan, malpraktik pembangunan, dan malfungsi. Kesalahan merancang dan membangun, yang diakui oleh Dirut PT Jakpro, sebagai “nasi sudah jadi bubur.”
Dewan Kesenian Jakarta juga dituntut agar secara tegas menolak tarif penyewaan ruang dan bangunan yang ditetapkan sepihak oleh PT Jakarta Propertindo, agar segera melaksanakan rekomendasi Musyawarah Kesenian Jakarta 2022, yaitu revisi regulasi Peraturan Gubernur Nomor 4 Tahun 2020 tentang Akademi Jakarta dan Dewan Kesenian Jakarta, dan rumusan Rencana Strategis Pengembangan Kesenian di Jakarta, yang sampai hari ini belum dituntaskan, begitu pula dengan rekomendasi Musyawarah Kesenian Jakarta tentang kandidat anggota Dewan Kesenian Jakarta periode 2023-2026 yang saat ini di tangan Akademi Jakarta.
Selain itu, Dewan Kesenian Jakarta dituntut untuk melaksanakan tugas kuratorial terhadap aktivitas yang berlangsung di kawasan Taman Ismail Marzuki, dan segera mengupayakan agar ruang dan gedung khususnya yang dikuasai dan dikelola oleh PT Jakarta Propertindo, segera dibuka untuk dapat dipergunakan oleh para seniman. Para seniman juga menuntut Dewan Kesenian Jakarta untuk mencantumkan nama Ajip Rosidi (sebagai pendiri TIM), dan Huriah Adam, untuk ruangan atau gedung yang ada di TIM.
Menyangkut kasus Joel Thaher sebagai karyawan tetap Dewan Kesenian Jakarta yang diberhentikan dengan alasan tidak jelas, para seniman menuntut agar Dewan Kesenian Jakarta memberikan pertanggungjawaban, pembelaan dan perlindungan.
Setelah sempat sebentar diguyur gerimis, acara yang berlangsung lebih dua jam, diisi dengan pembacaan puisi, musikalisasi puisi, dan performing art, antara lain oleh Nestor Rico Tambun, Riri Satria (Ketua Jagat Sastra Milenial), Remmy Novaris Dm (Ketua Dapur Sastra Jakarta), Ireng Halimun (pengelola Komunitas Sastra Semesta), Eki Thadan (Pimpinan KEPIK), Jose Rizal Manua (Bengkel Deklamasi), Romo Marthin, Narima Beryl Ivana, Octavianus Masheka, Wig SM, Nurhayati, Dyah Kencono Puspito, Sihar Ramses Simatupang, Nuri Laksmi, Theodora Polar Hutadjulu, Nanang R. Supriyatin, Megawati Nurdin, Nunung Noor El Niel, Mita Katoyo, Iwoe Banyu Gesang, Giyanto Subagio, Endin SAS, Rachma Effendi, Ayu, Mulya. “Nyanyi” puisi ditampilkan oleh Qthink Cakrawala dari Geng Sendal Jepit, dan Iyus Jayadibumi dari kelompok Kromatik.


