Karawang,MPP – Ada yang menarik dari sidang lanjutan pemeriksaan saksi-saksi Karena Terima Transfer 16 M Didakwa Pidana pada 26 Maret 2024. JPU menghadirkan saksi dari bank BJB yaitu Kepala Cabang BJB Maman Rukmana, Dewi Fajar Kesumawardhani, Cut Shabilla Irvany, dan 2 orang staf Bank BJB. Saksi-saksi diperiksa secara bersamaan.
Kemal didakwa oleh JPU karena pada tanggal 5 Oktober 2022 telah dengan sengaja menguasai dan mengakui uang yang bukan haknya sebagai miliknya. Padahal yang jelas menguasai uang tersebut adalah bank BJB dan Kemal belum memiliki uang tersebut.
Sebagaimana diberitakan Karena Terima Transfer 16 M Didakwa Pidana, dakwaan jaksa menyebutkan bahwa pada tanggal 10 Oktober 2022, Kemal datang ke Bank BJB Karawang untuk melakukan pengecekan apakah kiriman uang untuk tujuan rekeningnya (PT. Lineage Power Limited/LPL) sudah dipindahbukukan dan bertujuan melakukan penarikan di counter teller, yang akhirnya tidak dapat terlaksana karena Kemal tidak membawa kelengkapan dokumen underlying transaksi LPL. Bahkan pada tanggal 14 Oktober 2022, rekening BJB LPL sudah dibekukan oleh bank BJB.
Sebelumnya pada tanggal 13 Oktober 2022, Kemal kembali datang ke Bank BJB Cab. Karawang untuk bertemu dengan saksi Dewi Fajar Kesumawardhani dan saksi Cut Shabilla Irvany lalu Kemal memberikan bukti underlying transaksi LPL sebesar USD 1,062,551.57 berupa dokumen MOU antara OCK Sea Towers PTE LTD dengan LPL yang dibuat tanggal 10 Agustus 2022, Dokumen PO tanggal 9 Agustus 2022, dan invoice tanggal 10 September 2022. Kemudian saksi Dewi Fajar Kesumawardhani menyampaikan kepada Kemal bahwa terhadap dokumen tersebut akan dilakukan analisa oleh kantor BJB Pusat di Bandung.
Bank BJB Karawang setelah mendapatkan informasi dari Staf Administrasi Dana dan Jasa terdapat kiriman dana berupa uang transaksi swift incoming dari kantor pusat Bank BJB Divisi Operasi untuk rekening tujuan atas nama LPL, lalu dari informasi tersebut secara paralel dilakukan konfirmasi dengan divisi Kepatuhan dan APU PPT untuk melakukan profil nasabah dimaksud. Setelah mendapatkan informasi dimaksud, BJB Karawang menerjunkan tim untuk melakukan pendalaman dan penghentian sementara terhadap rekening LPL dengan hasil alamat kantor yang tertera dalam berkas pembukaan rekening tidak didapati kegiatan usaha di lokasi tersebut, nama perusahaan yang tertera pada alamat kantor adalah PT AGS. Karena diduga ada transaksi mencurigakan, Bank BJB melakukan pemblokiran sementara rekening LPL.

Selanjutnya pada tanggal 24 Oktober 2022, saksi korban Omer Chappelart dan saksi Chen Qiyuan Julian (perwakilan OCK Sea Towers) mendatangi kantor Bank BJB Karawang, dimana dalam pertemuan tersebut saksi Omer Chappelart mengatakan bahwa maksud dan tujuan kedatangannya adalah untuk mengkonfirmasi atau menceritakan atas transaksi yang dilakukan oleh OCK Sea Towers melalui bank OCBC Singapura, yang mana transaksi tersebut merupakan transaksi Fraud atau kecurangan.

Hakim anggota Dedi Irawan SH. MH. mencecar pertanyaan kepada kepala Bank BJB cabang Karawang, “Sebenarnya kalau anda mengacu pada undang-undang no. 3 Tahun 2011 tentang Transfer, permasalahan tidak perlu sampai serumit ini. Apakah anda sudah baca UU no. 3 tahun 2011 tentang transfer ?”.

Atas pertanyaan hakim tersebut, Maman menyatakan belum pernah baca. “Karena anda belum pernah baca, anda ini teledor. Seharusnya anda tinggal koordinasi dengan bank OCBC Singapura untuk pengembalian dana, apalagi korban sudah menghubungi anda. Apa yang anda katakan pada korban ? Terus apakah anda sudah menghubungi bank OCBC Singapura ?”, tanya hakim Dedi. Atas pertanyaan ini Maman menjawab, “Saya menyampaikan kepada korban bahwa perkara ini sudah ditangani oleh PPATK, jadi uang belum bisa dikembalikan. Dan mengenai OCBC Singapura saya belum pernah menghubungi”.

Hakim Dedi menandaskan, “Itu artinya SOP bank anda belum update dengan aturan UU no. 3 Tahun 2011. Karena keteledoran bank anda, yang menyebabkan kerugian pada korban. Tadi korban sempat menyatakan bahwa mereka rugi karena diklaim denda keterlambatan pembayaran selama 1 tahun lebih. Belum lagi uangnya sudah dipindahkan ke rekening lain. Ini sudah menyebabkan originalitas bukti tercemar”.

Penasehat Hukum Kemal, Asep Noer SP. SH. pada saat menanyai saksi menyatakan bahwa karena bank BJB Karawang tidak memenuhi permintaan Omer mengembalikan uang tersebut ke rekening Omer, maka bank BJB telah melanggar HAM Kemal yakni telah merampas kebebasan Kemal.

“Bagaimana pertanggungjawaban Bank BJB atas kerugian klien saya ? Fakta di persidangan menunjukkan bahwa Kemal belum menikmati uang salah transfer dan yang menguasai uang tersebut adalah Bank BJB. Bukankah bisa dikatakan bahwa bukan Kemal yang merugikan korban, tapi Bank BJB yang menahan uang sehingga menyebabkan kerugian pada korban Omer ?”, pungkas Asep.

Sidang akan dilanjutkan pada tanggal 28 Maret 2024 dengan agenda masih memeriksa saksi-saksi. (Team MPP Jawa Barat)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan tulis komen anda!
Masukkan nama anda disini