Media Purna Polri- Jakarta. FKUKI, setelah dinobatkan sebagai Dosen terbaik FK diacara Dies Natalies Ke 66 UKI, 15 Oktober 2019 yang lalu. Dr. Louisa. A.Langi menceritakan tentang kisah hidupnya yang penuh dengan pengorbanan. Sampai masuk kepelosok desa untuk membantu korban bencana alam dan anak-anak gizi buruk di kantornya Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia-Cililitan, Kamis (7/11/2019).

Dr. Louisa yang saat ini menjabat sebagai Wakil Dekan 3 bidang kemahasiswaan dan juga merupakan salah satu alumni di FKUKI menceritakan kisah hidupnya. Bermula saat duduk dibangku sekolah dasar, kedua orang tua (papa-mama) memanggil saya dan adik saya menanyakan cita-cita kami berdua.

Pada waktu itu, adik saya menjawab ingin menjadi Dokter, banyak uang supaya dapat keliling dunia dan saya sang kakak menjawab jadi Pendeta supaya bisa melayani Tuhan keliling Indonesia, kisahnya.

Setelah dewasa, Tuhan mengabulkan keinginan hati kami. Adik saya dapat berkeliling dunia dan saya sendiri berkeliling Indonesia, ungkapnya. Meskipun cita-cita kami pada awalnya diubah oleh Tuhan, adik saya Elsye Langi. M.Th lulus sebagai Sarjana Theology saat ini di USA dan saya yang menjadi dokter juga sebagai Dosen FKUKI di Jakarta, ujarnya.

Setelah 25 tahun menjadi Dokter, Tuhan kasih bonus kuliah di STT Jafray dan mendapat gelar MA.
Tidak terasa saya sudah 30 tahun menjadi Dokter juga termasuk Ahli Gizi Masyarakat. Bersyukur kepada Tuhan yang telah memberikan kesempatan lagi study S3 Program Doktor di FK UKI Jakarta dan juga adik saya Elsye Sasongko Langi saat ini di Southeastern Baptist Theological Seminary (Doctor of Education).

Keliling Indonesia sebagai Dokter dalam rangka menolong masyarakat korban bencana alam. Sebagian besar wilayah Indonesia sudah saya kunjungi, bahkan sampai keluar negeri juga dalam rangka yang sama, menolong korban gempa di Nepal.

Ditengah-ditengah panggilan jiwa sebagai Dokter, melayani penderita para korban bencana alam tidak pernah lupa menunaikan tugas sebagai dosen di FKUKI. Bahkan untuk periode yang kedua ini sebagai Wakil Dekan 3 bidang kemahasiswaan, alumni dan kerjasama di FKUKI saya masih dapat menyempatkan diri menolong para korban bencana Tsunami dan Likuifakasi di Palu dan Banten. Keinginan melayani kesehatan masyarakat korban bencana alam di seluruh Indonesia dan juga menangani anak-anak yang bermasalah dengan gizi buruk/stanting adalah panggilan jiwa saya, tambahnya.

Pengalaman yang paling mendebarkan adalah, saat sedang menolong korban gempa di Aceh, Lombok dan Nepal.  Karena saat akan menolong pasien gempa, datang lagi gempa susulan dengan kekuatan scala richter melebihi gempa pertama. Di Lombok Utara, diatas bukit tempat tinggal pengungsi, saat gempa susulan 7,1 datang, para pengungsi berteriak ketakutan dan saling bertabrakan, hingga mengalami luka bahkan pingsan karena terinjak- injak.  Mengakibatkan jatuh korban dan pada saat itupun korban begitu banyak dan harus saya tangani sendirian, ungkapnya.

Dr. Louisa yang lahir di Minahasa, Sulawesi Utara tepatnya pada tanggal 4 November 1961. Walaupun usia sudah memasuki 58 tahun bertekad, “Selama saya masih hidup dan diberi kekuatan oleh Tuhan┬á saya dan suami saya Dr. Heru Mustika, kami akan terus melayani masyarakat tanpa takut dengan tantangan dan bahaya yangg dihadapi”, pungkasnya.┬á (JD)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan tulis komen anda!
Masukkan nama anda disini