MEDIA PURNA POLRI,JAKARTA- Aliansi Mahasiswa Jakarta menggelar aksi Demostrasi di depan Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi untuk meminta Pihak KPK menangkap dan mengadili Gubernur Sulawesi Tenggara Ali Mazi,SH dikarenakan Tidak cukup dengan pat gulipat pengurusan perpanjangan Hotel Sultan, Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) Ali Mazi disebut-sebut menyalahgunakan kewenangannya untuk melakukan jual beli jabatan.

Isu kotor tersebut santer terdengar di Sulawesi Tenggara, khususnya di Kota Kendari, tempat Beliau memerintah.

“Ali Mazi itu pemain, kenapa? Orang-orang yang ingin menduduki jabatan tertentu, pasti menghuhungi dia. Dengan kewenangan dan kekuasaannya, kan mudah saja dia menentukan jabatan seseorang, tapi tentu saja harus ada imbalannya, ” Kata Ketua Aliansi Mahasiswa Jakarta, Frans.

Menurut sumber, modus yang dilakukan Ali Mazi dalam melakukan jual beli jabatan, melibatkan orang,-orang dekatnya.

Persoalan lain yang mengusik adalah pembangunan dermaga yang terletak disebelah sekolah SD Boinaga, sehingga mengganggu proses belajar-mengajar di sekolah tersebut.

Pembangun dermaga yang tidak memiliki Amdal itu dilakukan oleh adik kandung Ali Mazi bernama Sahrin, pemilik perusahaan Tambang PT Daka Group.

Tidak adanya kajian amdal itu bertentangan dengan perinsip prinsip lingkungan hidup, tetapi terkesan ada pembiaran oleh Dinas ESDM Prov Sulawesi Tenggara sebab perusahaan yang membangun milik adik kandung Gubernur, sementara perusahaan lain di persulit.

Menurut Hasil Investigasi, isteri Ali Mazi yang bernama Agista, melakukan kutipan liar kepada setiap perusahaan tambang nikel yang akan mengajukan RKAB, harus melakukan Setoran, dengan tiga kategori.

Berdasarkan permintaan kuota yang diajukan dalam rangka penjualan nikel 200-500 dan satu milyar per satu IUP. Di samping itu, dia juga menekan kepada setiap pemilik IUP bila melakukan nikel ore, harus menyetor 30-50 jt per tongkang.

Menurut hasil investigasi, saudara kerabat Ali Mazi sudah ditangkap oleh KPK di Bali. Tapi karena ada tekanan dan perlindungan dari elite politik dan pengusaha besar di Republik ini, mereka di bebaskan dan tidak diperiksa lebih lanjut. Bahkan yang bersangkutan berlindung di Kantor DPP salah satu partai besar.

Ali Mazi merupakan orang kuat di Sultra. Pada periode pertama jabatannya dia pernah dijadikan tersangka oleh KPK dan Kejaksaan Agung dalam kasus perpanjangan HGB Hotel Hilton Jakarta.

Namun Ali Mazi tidak pernah ditahan, dan kembali terpilih dalam Pilkada Sultra tahun 2018. (David P Munthe)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan tulis komen anda!
Masukkan nama anda disini