MEDIA PURNA POLRI,JAKARTA- Kepala Sub Komite Penerbangan KNKT, Nurcahyo Utomo menyampaikan ada tiga AOA dalam pesawat jenis Boeing 737 Max 8. Dimana dalam kasus jatuhnya pesawat ini, hanya satu AOA yang diganti.

Pengggantian AOA ini dijelaskannya bukanlah kerusakan baru. Kata Nurcahyo penggantian AOA masih berkaitan dengan kerusakan penunjuk kecepatan atau Air Speed Indicator yang beberapa lalu disebutkan pihaknya. AOA diganti oleh si pilot setelah melaporkan adanya kerusakan.

“Ini posisi (yang diganti) disebelah kiri. Di bagian jendela pilot,” Katanya.

Namun, meski berkaitan dengan kerusakan Air Speed Indicator, Nurcahyo menjelaskan AOA baru diganti saat penerbangan Denpasar-Jakarta, padahal diketahui dalam dua penerbangan sebelumnya Air Speed Indicator sudah rusak. Hal itu terungkap setelah pilot rute Denpasar-Jakarta mendapati adanya kerusakan Air Speed Indicator dan meminta saran.

“Di dua penerbangan sebelumnya tidak (diganti AOA). Di (penerbangan) Denpasar-Jakarta (digantinya),” Kata Dia lagi.

Nurcahyo Utomo menambahkan untuk itu satu AOA yang diganti di Denapsar itu akan dikirim ke prabriknya di Chicago, Amerika Serikat guna diperiksa. Hal itu dilakukan untuk mencari tahu kenapa setelah diganti tetap ada ketidakcocokan dengan satu AOA lain.

“Setelah diganti masalah gak sembuh, (atau) mungkin masalah malah bertambah. Maka disini bagaimana kondisi AOA ini kita kirim (ke Chicago) untuk dilihat. Kalau ternyata membaik, maka gak perlu dibawa Chicago. Selain komponennnya, siapa tahu proses masangnya gak sesuai?,” Kata Dia.

Namun dipastikan AOA baru yang dipakai untuk diganti adalah serviceable parts atau laik. AOA itu diyakini berfungsi baik karena ada forum registrasinya yang bernomor 8130.

“Kita akan lakukan tes pada (satu) AOA (yang diganti) di Bali kita CT scan, kita lihat kompenen didalamnya. Apabila harus dibongkar, akan kita bongkar. Kita akan lihat masalah kerusakan apa yang ada di sensor itu,” Ucap Nurcahyo.

Meski belum dipastikan apakah penggantian salah satu indikator penunjuk sikap atau Angle of Attack (AOA) pada pesawat Lion Air JT-610 lantaran Air Speed Indicator pesawat yang rusak adalah penyebab pesawat itu jatuh di Perairan Karawang, Jawa Barat, namun Komite Nasional Keselamatan Transportasi mencurigai AOA bisa saja jadi penyebab kecelakaan.

“AOA ini patut dicurigai bisa, tapi kontribusinya (terhadap penyebab kecelakaan) gimana, kita gak tahu,” Kata Kepala Sub Komite Penerbangan KNKT, Nurcahyo Utomo di kantornya, Rabu 7 November 2018.

Namun, Ia menegaskan akan menunggu hasil investigasi keluar dan hasil pemeriksaan AOA yang diganti ke pabrik pembuat di Chicago, Amerika Serikat.

Nurcahyo Utomo mengatakan dalam waktu dekat pihak Boeing akan mengeluarkan prosedur baru terkait pemakaian pesawat jenis Boeing 737 Max 8. Hal itu menyusul kecelakaan pesawat jenis tersebut yang digunakan maskapai Lion Air.

“Ini adalah hasil kerja sama kita hingga muncul prosedur baru ini,” Ujar dia.

Hal ini juga merupakan permintaan pihaknya agar kejadian serupa tidak terjadi pada pesawat sejenisnya. Apalagi pesawat jenis itu ada sekitar 200 yang kini beroperasi di dunia.

“Dari data awal KNKT memandang bahwa Boeing perlu lakukan tindakan apa yang sudah terjadi pada masyarakat pengguna 373 max untuk melakukan perbaikan. Apa yang akan disampaikan ke Boeing draftnya sudah kita siapkan, sudah ada kesepaktan KNKT dan Boeing akan publikasi ke dunia ada prosedur baru,” Katanya.

Prosedur baru ini sendiri, lanjutnya, didapat dari hasil investigasi pesawat Lion Air JT-610 yang jatuh. Dia menjelaskan investigasi dilakukan bukan untuk mencari kesalahan, tapi pencegahan.

“Investigasi kita tidak untuk cari salah, tapi perbaikan. Mencegah lain hari kejadian serupa,” Ujar dia lagi.

Sementara itu, Nurcahyo menambahkan pihaknya tidak bermaksud mencicil-cicil informasi soal investigasi. Ia menjelaskan kalau pihaknya harus berhati-hati dalam menyampaikan hasil investigasi.

“Saya mau sampaikan bahwa apa yang kami sampaikan harus dikonfirmasi dulu. Apabila yang ada harus dicari, kita belum berani sampaikan ke masyarakat. Apa yang sudah kita pastikan, baru kita sampaikan agar tidak muncul opini simpang siur informasi di masyarakat,” Kata dia.

Nurcahyo Utomo menjelaskan pada saat proses perbaikan pesawat ada tahapan-tahapan yang harus dilalui teknisi.

“Jadi perbaikan itu ada yang namanya trouble shooting kalau komponennya ada sepuluh maka diperiksa satu dilihat lagi gimana sistemnya. Nyatanya sudah bagus, bisa terbang. Tapi kok (masih) ada masalah, ganti komponen kedua. Step kedua kelihatannya bagus, terbang. Lagi, nyatanya masih salah masuk ke step tiga,” Ujar dia di kantornya, Rabu 7 November 2018.

Dalam kasus kecelakaan Lion Air JT-610, diketahui ada kerusakan pada Air Speed Indicator yang berujung pada digantinya salah satu indikator penunjuk sikap atau Angle of Attack (AOA). Usai pemasangan AOA baru itu dipertanyakan adakah langkah selanjutnya yang dilakukan atau tidak.

“Kalau waktu di Denpasar sudah pada step mengganti AOA itu, maka (di) Jakarta akan maju pada step berikutnya. Harus masuk ke step berikutnya AOA sudah diganti. Setiap pekerjaan akan dicatat bukunya ada, apa yang dilakukan teknisi berikutnya,” Katanya.

Lebih lanjut Dia mengatakan semua perbaikan itu akan dicatat dalam sebuah buku. Ia menyebut perbaikan yang dilakukan di Denpasar tentu akan berbeda dengan di Jakarta bila harus perbaikan lagi. Perbaikan harus maju ke tahap selanjutnya sesuai prosedur tahapan tadi.

“Apa yang dilakukan di Jakarta beda dengan di Bali,” Tutupnya.

(Willy)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan tulis komen anda!
Masukkan nama anda disini